Yogyakarta (ANTARA) - Pembalap Moto3 Veda Ega Pratama dan pembalap Moto2 Mario Suryo Aji membagikan sejumlah pengalaman unik selama tinggal di Spanyol untuk menjalani kejuaraan dunia balap motor pada paruh musim 2026, mulai dari rutinitas latihan hingga pengalaman terkena tilang.
Pembalap Moto3 asal Gunungkidul Veda Ega Pratama di Yogyakarta, Minggu, mengatakan salah satu pengalaman yang paling diingat adalah saat dirinya bersama Mario pernah ditilang aparat setempat ketika dalam perjalanan menuju sirkuit dan biaya denda tilang dibayari oleh Mario.
"Sempat kena tilang pas perjalanan ke sirkuit di sana, Mas Mario yang bayarin," ujarnya.
Menurut Veda, selama tinggal di Spanyol ia banyak menghabiskan waktu bersama Mario karena keduanya tinggal di lokasi yang sama.
Aktivitas mereka diisi dengan latihan bersama, berolahraga di pusat kebugaran, hingga menjalani berbagai persiapan menghadapi balapan.
"Saya tinggal bareng (dengan Mario) di Eropa, tiap hari latihan bareng, pergi ke gym," katanya.
Baca juga: Veda-Mario jumpa penggemar di Yogyakarta sebelum ke Mandalika
Dalam kesempatan itu, Veda juga menceritakan awal ketertarikannya pada dunia balap motor. Ia mengaku mengenal olahraga tersebut dari sang ayah, Sudarmono, yang merupakan mantan pembalap nasional.
"Dulu ayah saya mantan pembalap. Saya beberapa kali ikut menonton balapan dan melihat ayah latihan. Dari situ saya ingin menjadi pembalap dan ayah juga mendukung," ujarnya.
Veda mengatakan dirinya mulai menekuni balap motocross sejak kecil sebelum beralih ke balap road race pada usia sembilan tahun.
"Terus lanjut balap nasional dulu, kemudian tahun 2022 mulai naik ke level internasional," katanya.
Sementara itu, Mario Suryo Aji membenarkan cerita Veda terkait pengalaman keduanya ditilang aparat di Spanyol saat hendak berangkat latihan dari Barcelona menuju Mora.
"(Betul) saya yang bayar denda tilangnya," katanya sambil berkelakar.
Baca juga: Veda Ega dan Mario Aji isi energi di Bali saat jeda paruh musim
Mario mengatakan selama tinggal di Barcelona bersama Veda, keduanya menjalani jadwal latihan yang padat, mulai dari latihan fisik hingga latihan menggunakan sepeda motor.
"Selama musim berjalan kami di Barcelona, seminggu lima kali pasti ada aktivitas dan hampir setiap hari latihan dengan variasi berbeda, mulai motor hingga fisik," katanya.
Mario juga mengungkapkan kecintaannya terhadap dunia balap berawal dari almarhum ayahnya, Hartoto, yang juga merupakan seorang pembalap.
"Dulu almarhum ayah juga pembalap, jadi saya dikenalkan dunia balap oleh almarhum ayah," ujarnya.
Ia mulai mengenal motocross saat berusia sekitar lima hingga enam tahun dan mengaku sudah sangat menyukai sepeda motor sejak kecil.
"Awalnya motocross umur lima atau enam tahun, dulu kalau sehari enggak naik motor, nangis," katanya.
Kegemaran tersebut kemudian membawanya meniti karir dari ajang balap tingkat daerah, nasional, hingga akhirnya berlaga di kejuaraan dunia.
Baca juga: Pertamina luncurkan rangkaian Road to MotoGP Indonesia 2026
Baca juga: Veda tak percaya dengan "Marquez curse" di Sirkuit Mandalika
Pewarta: Agung Dwi Prakoso
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































