Menlu Jerman, China bahas pembukaan kembali Selat Hormuz

1 hour ago 2

Moskow (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul membahas situasi di Timur Tengah dengan Menlu China Wang Yi. Keduanya menyepakati perlunya memulihkan jalur pelayaran bebas bagi kapal-kapal di Selat Hormuz, kata Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jerman.

Seorang anggota komisi parlemen Iran untuk keamanan nasional dan kebijakan luar negeri, Alaeddin Boroujerdi, Senin, mengatakan parlemen Iran berencana memperkenalkan aturan navigasi baru di Selat Hormuz, di mana Teheran akan menjamin keamanan di jalur tersebut bagi kapal, sembari mengenakan biaya transit.

Tidak ada kapal yang akan bisa melewati selat tersebut tanpa izin Iran, imbuh anggota parlemen itu.

"Jerman dan China sama-sama ingin memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Kami sepakat bahwa tiap-tiap negara tidak boleh mengendalikan jalur pelayaran atau mengenakan bea untuk pelayaran," kata Kemlu Jerman di X pada Kamis.

Berlin dan Beijing prihatin dengan situasi di Timur Tengah dan ingin mengakhiri konflik secepat mungkin, katanya.

Pada saat yang sama, Kemlu Jerman berharap China dapat menggunakan pengaruhnya terhadap Iran untuk menemukan solusi melalui negosiasi dan mengakhiri pertempuran.

Sementara itu, Menlu sekaligus Wakil Perdana Menteri Italia Antonio Tajani mengadvokasi pembentukan koridor kemanusiaan di Selat Hormuz untuk pasokan makanan dan pupuk.

"Bersama rekan-rekan, termasuk Menteri Belanda dan Wakil Menteri Uni Emirat Arab, Tajani menggarisbawahi perlunya proses yang dipimpin PBB untuk membangun 'koridor kemanusiaan' sesegera mungkin," kata kementerian tersebut setelah konferensi video terkait Selat Hormuz.

Baca juga: Iran-Oman susun protokol pengawasan Selat Hormuz

"(Koridor tersebut) terutama untuk pupuk dan pasokan penting lainnya guna mencegah krisis pangan baru, khususnya di negara-negara Afrika," imbuh kementerian tersebut dalam pernyataannya.

Pada 28 Februari, AS dan Israel menyerang sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Eskalasi ketegangan di sekitar Iran telah menyebabkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga mendorong kenaikan harga energi.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: Sekjen IMO: Upaya militer semata tidak bisa selesaikan krisis Hormuz

​​​​​​​

Penerjemah: Katriana
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |