Cilegon, Banten (ANTARA) - PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengalokasikan investasi sekitar tiga juta dolar AS untuk mengembangkan proyek percontohan (pilot project) hidrogen hijau di Ulubelu, Lampung, sebagai bagian dari strategi transisi energi rendah karbon berbasis panas bumi.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan proyek tersebut masih berada pada tahap pilot project nonkomersial yang ditujukan untuk membuktikan kesiapan teknologi, aspek keselamatan, serta model bisnis sebelum dikembangkan dalam skala yang lebih besar.
"Untuk pilot project green hydrogen yang kita lakukan ini (investasinya) kurang lebih sekitar tiga juta dolar AS," kata Ahmad usai seremoni kick off ESG Initiative Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten, Rabu.
Ia menjelaskan proyek percontohan hidrogen hijau di Ulubelu memiliki kapasitas produksi sekitar 80-100 kilogram per hari, yang dihasilkan dari pemanfaatan listrik panas bumi dengan teknologi anion exchange membrane electrolyzer dan efisiensi sekitar 80 persen.
Sebagian besar produksi hidrogen hijau tersebut direncanakan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan energi rendah karbon di Terminal LPG Tanjung Sekong melalui penggunaan teknologi fuel cell sebagai pengganti sumber energi berbasis bahan bakar fosil.
"Sekitar 80 persen (hidrogen hijau) dari Ulubelu akan digunakan untuk keperluan Terminal Tanjung Sekong," ujarnya.
Menurut dia, pengembangan hidrogen hijau Ulubelu dilakukan melalui pembentukan ekosistem antaranak usaha Pertamina, termasuk sinergi dengan PT Pertamina Energy Terminal sebagai pengguna hidrogen dan PT Elnusa Petrofin untuk dukungan distribusi.
Ahmad menambahkan pilot project tersebut ditargetkan beroperasi pada triwulan IV 2026 dengan masa uji coba selama tiga tahun sebagai proof of concept dan commercial readiness sebelum Pertamina mengembangkan bisnis hidrogen hijau dalam skala yang lebih luas, seiring potensi pemanfaatannya di sektor energi dan industri.
Sementara itu, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono mengatakan pengembangan hidrogen hijau merupakan bagian dari upaya Pertamina menurunkan emisi karbon dari sisi operasional aset strategis.
"Ini menunjukkan bahwa transformasi menuju bisnis berkelanjutan tidak hanya konsep, tetapi sudah diterapkan langsung di aset operasional strategis," ujar Agung.
Menurut dia, pemanfaatan hidrogen hijau di Terminal LPG Tanjung Sekong diharapkan dapat berkontribusi pada penurunan emisi dari konsumsi energi listrik konvensional sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Terminal LPG Tanjung Sekong merupakan salah satu fasilitas strategis Pertamina yang menyuplai sekitar 35-40 persen kebutuhan LPG nasional, sehingga penerapan energi rendah karbon di fasilitas tersebut dinilai memiliki dampak signifikan terhadap upaya dekarbonisasi sektor energi hilir.
Baca juga: Pertamina sebut pengembangan hidrogen hijau serap ratusan pekerja
Baca juga: Pertamina targetkan penambahan jaringan SPBU hidrogen
Baca juga: PGE dan Pertagas kolaborasi kajian pengembangan hidrogen hijau
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































