Jakarta (ANTARA) - Pembangunan hunian sementara (huntara) modular bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, terus berjalan sesuai jadwal.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo melalui keterangan di Jakarta, Rabu, menjelaskan huntara tersebut diharapkan dapat segera ditempati, sehingga warga terdampak bencana tidak lagi bertahan di tempat pengungsian saat Ramadhan dan bisa menyambut Idul Fitri di hunian yang lebih layak.
"Progresnya masih sesuai schedule. Insya Allah minggu pertama Ramadhan ini bisa selesai," kata Menteri PU Dody Hanggodo.
Menteri PU menjelaskan huntara modular tersebut dibangun di atas lahan seluas 30.000 meter persegi atau sekitar tiga hektare. Total luas bangunan mencapai 4.855 meter persegi, yang terdiri dari 19 blok hunian.
Baca juga: TNI AD bangun sumur bor di lokasi huntara Bener Meriah Aceh
Setiap blok disusun menggunakan sistem konstruksi modular baja prefabrikasi, dengan total 228 modul hunian yang disiapkan untuk menampung 228 Kepala Keluarga (KK).
Metode konstruksi modular dipilih untuk mempercepat proses pembangunan tanpa mengurangi kualitas bangunan. Dengan sistem ini, unit hunian dapat dirakit lebih cepat di lokasi, sehingga target dapat tercapai sesuai rencana.
Selain unit hunian, kawasan huntara modular juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kebutuhan dasar penghuni. Area non-hunian seluas 2.210 meter persegi disiapkan untuk fasilitas sanitasi, selasar, serta ruang aktivitas bersama.
Secara keseluruhan tersedia 114 unit shower dan 114 unit kloset, termasuk empat unit fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas.
Baca juga: Pemkab: Huntara mandiri di Nagan Raya akan dibayar Rp20 juta oleh BNPB
Kawasan ini juga dilengkapi hunian ramah difabel, toilet difabel, area multifungsi, area parkir, serta mushala untuk menunjang aktivitas sosial dan ibadah penghuni.
Sistem pendukung hunian disiapkan secara terpadu, mulai dari penyediaan air bersih hingga listrik. Kebutuhan air bersih dipasok dari sumur bor sedalam sekitar 52 meter yang dibangun Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Aceh.
Sementara itu pengolahan air kotor dilakukan menggunakan biotank dan suplai listrik disediakan oleh PLN.
Dengan dukungan fasilitas yang lebih lengkap, kata dia, huntara modular ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat berteduh sementara, tetapi juga ruang hidup yang layak bagi warga terdampak hingga hunian tetap mereka tersedia.
Melalui huntara ini, lanjut dia, diharapkan para masyarakat terdampak bencana bisa melewati Ramadhan dengan lebih nyaman dan menyambut Lebaran di tempat tinggal yang aman dan bermartabat.
Baca juga: Komitmen percepat pemulihan, BNPB resmikan huntara di Aceh Utara
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































