Surabaya (ANTARA) - Langkah kaki yang memasuki Museum Dr Soetomo Kota Surabaya pada awal Juni ini tidak hanya berhadapan dengan etalase benda-benda masa lalu. Di ruang yang selama ini identik dengan koleksi sejarah, pengunjung justru diajak memasuki sebuah perjalanan yang lebih personal tentang manusia, budaya, dan tanah air yang disebut Pertiwi.
Melalui "Cross Musea Pertiwi", Pemerintah Kota Surabaya menghadirkan sesuatu yang berbeda. Tiga museum dari tiga institusi berbeda dipertemukan dalam satu ruang narasi. Museum Etnografi Universitas Airlangga, Museum Mpu Tantular Sidoarjo, dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta berkolaborasi menyusun kisah tentang perjalanan hidup manusia dari lahir hingga akhir hayat.
Kolaborasi ini tampak sederhana sebagai sebuah pameran. Namun jika dicermati lebih jauh, "Cross Musea Pertiwi" sebenarnya berbicara tentang isu yang lebih besar, yakni bagaimana museum berjuang menemukan kembali relevansinya di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Di era ketika perhatian publik direbut media sosial, video pendek, dan kecerdasan buatan, museum tidak lagi cukup hanya mengandalkan koleksi yang disimpan di balik kaca. Tantangan terbesar museum masa kini bukan sekadar menjaga benda bersejarah, melainkan menjaga agar sejarah tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Arsip - Sejumlah pengunjung berfoto di area pameran imersif dalam kegiatan Cross Musea Pertiwi yang digelar UPTD Museum Surabaya di Museum Dr. Soetomo, Surabaya, 2025. Pameran ini menghadirkan pengalaman interaktif yang menggabungkan edukasi sejarah dan budaya dengan teknologi visual. (ANTARA-HO/Diskominfotik Surabaya)Narasi baru
Museum, selama bertahun-tahun menghadapi persoalan yang hampir seragam. Banyak orang menganggap museum sebagai tempat yang penting, tetapi tidak selalu menarik untuk dikunjungi.
Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tingkat kunjungan museum di Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Di banyak daerah, museum, bahkan lebih sering menjadi tujuan kunjungan wajib pelajar daripada ruang belajar yang dipilih secara sukarela oleh masyarakat.
Fenomena ini bukan semata kesalahan museum. Cara masyarakat mengonsumsi informasi memang telah berubah drastis. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital yang menuntut pengalaman cepat, visual, dan interaktif.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































