Perjalanan panda dari China ke Dunia, kini simbol konservasi global

3 months ago 12

Jakarta (ANTARA) - Sedikit sekali hewan yang mampu memikat imajinasi dunia seperti panda raksasa.

Dengan bulu hitam-putih khas dan sifatnya yang lembut, hewan bernama Latin Ailuropoda melanoleuca ini menjadi simbol perdamaian, persahabatan, dan pelestarian satwa liar.

Dari hutan pegunungan di Sichuan hingga kandang-kandang kebun binatang dari Washington sampai Indonesia, panda menjelajahi dunia sebagai duta hidup diplomasi dan konservasi global China.

Awal Mula: Dari Petualangan ke Diplomasi

Kisah global panda tidak bermula dari ruang pertemuan diplomatik, melainkan dari ekspedisi alam liar.

Pada 1936, penjelajah asal Amerika Serikat (AS), Ruth Harkness, membawa panda hidup pertama dari China ke Kebun Binatang Brookfield di Chicago. Panda betina bernama Su-Lin itu segera menjadi sensasi.

Ribuan orang rela mengantre berjam-jam untuk melihatnya, surat kabar menulis setiap gerak-geriknya, dan toko mainan mulai menjual boneka panda untuk pertama kalinya.

Su-Lin berhasil menggambarkan pesona baru dunia terhadap hewan yang sebelumnya nyaris tak dikenal.

Setelahnya, beberapa panda lain seperti Mei Mei dan Pandora juga dibawa oleh para naturalis Barat pada akhir 1930-an untuk dipamerkan di London dan New York.

Pasca Perang Dunia II, ekspor panda liar dihentikan ketika China mulai membatasi perdagangan satwa dan memperkuat perlindungan terhadap fauna asli.

Dunia kembali menyaksikan gemasnya panda hingga pada 1950-1960-an, Republik Rakyat China mulai menghadiahkan panda kepada negara-negara sahabat.

Praktik ini kemudian dikenal sebagai "diplomasi panda", di mana panda digunakan sebagai simbol niat baik, kepercayaan, dan hubungan internasional.

Amerika Utara: Dari Hadiah ke Ilmu Pengetahuan

Terobosan diplomatik terbesar terjadi pada 1972, ketika perdana menteri China kala itu, Zhou Enlai, menghadiahkan dua panda, Ling-Ling dan Hsing-Hsing, kepada AS setelah kunjungan bersejarah presiden AS saat itu, Richard Nixon, ke Beijing.

Kedatangan mereka di Smithsonian National Zoo menarik lebih dari 1 juta pengunjung hanya dalam setahun, dan keduanya menjadi ikon favorit hingga 1990-an.

Pada 1984, China menghentikan kebijakan pemberian gratis dan menggantinya dengan sistem pinjaman ilmiah, di mana negara tuan rumah menandatangani kerja sama penelitian dan konservasi.

Kemitraan ilmiah antara kedua belah pihak pun meningkat. Kebun Binatang San Diego menjadi pelopor ketika Bai Yun dan Gao Gao tiba pada 1996.

Kebun binatang itu berinvestasi besar dalam penelitian reproduksi dan berhasil melahirkan lima anak panda, termasuk Hua Mei (1999), yang kemudian berkontribusi pada program penangkaran di Sichuan. Penelitian mereka tentang inseminasi buatan dan analisis susu panda juga menjadi rujukan dunia.

Kebun Binatang Atlanta juga sukses dengan pasangan Lun Lun dan Yang Yang, yang melahirkan lima anak dan menjadikan kebun binatang tersebut sebagai pusat konservasi panda di AS bagian tenggara.

Sementara di Washington, pasangan panda Mei Xiang dan Tian Tian di National Zoo menjadi favorit publik dan berperan penting dalam studi genetika lintas benua.

Amerika Latin: Pelopor Konservasi Panda Eropa: Rumah Kedua bagi Panda

Amerika Latin memiliki tempat istimewa dalam sejarah panda.

Wilayah ini menjadi yang pertama di luar Asia dan Amerika Utara yang memelihara panda, sekaligus yang pertama berhasil melahirkan anak panda di luar China.

Kisahnya dimulai pada 1975, ketika Kebun Binatang Chapultepec di Meksiko menerima sepasang panda, Ying Ying dan Pe Pe, sebagai hadiah diplomatik.

Enam tahun kemudian, lahirlah Tohui, yang menjadi anak panda pertama yang berhasil hidup di luar China. Keberhasilan itu dirayakan secara nasional, bahkan diabadikan dalam lagu, perangko, dan film dokumenter.

Anak-anak berikutnya, seperti Xiu Hua dan Xin Xin, memperkuat reputasi Meksiko sebagai ahli konservasi panda.

Menariknya, Xin Xin yang lahir pada 1990 menjadi satu-satunya panda di dunia yang tidak dimiliki oleh China, karena lahir sebelum kebijakan pinjaman ilmiah diberlakukan.

Kini, Kebun Binatang Chapultepec telah memodernisasi fasilitasnya, menanam bambu sendiri, serta mengembangkan program edukasi konservasi.

Negara-negara lain seperti Kuba, Brasil, dan Chile juga bekerja sama dengan China dalam penelitian satwa liar, meskipun belum ada yang menjadi tuan rumah panda secara permanen.

Kehadiran Xin Xin di Meksiko tetap menjadi simbol hidup persahabatan dan kerja sama ilmiah.

Eropa: Rumah Kedua bagi Panda

Negara Eropa lain seperti Belgia (Pairi Daiza), Belanda (Kebun Binatang Ouwehands), dan Finlandia (Kebun Binatang Ahtari) juga aktif dalam riset dan kampanye kesadaran publik, menunjukkan komitmen kuat Eropa terhadap "diplomasi keanekaragaman hayati".

Panda pertama di Benua Biru, Chi Chi, tiba di Kebun Binatang London pada 1958 setelah batal dikirim ke AS akibat ketegangan Perang Dingin.

Pesona Chi Chi bahkan menginspirasi logo panda ikonis World Wide Fund for Nature (WWF), yang hingga kini menjadi simbol pelestarian satwa global.

Pada 1970-1980-an, China memperluas diplomasi pandanya ke negara-negara Eropa lainnya. Kebun Binatang Madrid menerima Shao Shao dan Qiang Qiang pada 1978 dan berhasil mencatatkan kelahiran panda pertama di Eropa pada 1982.

Di Wina, Kebun Binatang Schonbrunn menyambut Yang Yang dan Long Hui pada 2003 dan berhasil melahirkan bayi kembar secara alami pada 2016, sesuatu yang jarang terjadi, bahkan di China.

Di Prancis, ZooParc de Beauval mencuri perhatian publik ketika Huan Huan dan Yuan Zi tiba pada 2012, disusul kelahiran Yuan Meng pada 2017, yang merupakan panda pertama yang lahir di Prancis.

Kebun Binatang Berlin di Jerman membuka kompleks panda modern pada 2017 dan menyambut kelahiran anak kembar pada 2019.

Negara Eropa lain seperti Belgia (Pairi Daiza), Belanda (Kebun Binatang Ouwehands), dan Finlandia (Kebun Binatang Ahtari) juga aktif dalam riset dan kampanye kesadaran publik, menunjukkan komitmen kuat Eropa terhadap "diplomasi keanekaragaman hayati". Di Asia Tenggara, diplomasi panda memperluas pengaruh China.

Ketika Kebun Binatang Edinburgh di Skotlandia mengembalikan Tian Tian dan Yang Guang pada 2023, jutaan warga Inggris mengenang lebih dari satu dekade kehadiran panda yang memperdalam pemahaman mereka akan konservasi alam.

Asia dan Oseania: Ikatan dan Keberhasilan Bersama

Di Asia, pertukaran panda mempererat hubungan persahabatan kawasan.

Jepang menerima panda pertamanya di Kebun Binatang Ueno pada 1972, tahun yang sama dengan AS, untuk menandai normalisasi hubungan diplomatik.

Generasi demi generasi panda lahir di sana, termasuk Xiang Xiang (2017) yang menjadi selebritas nasional. Adventure World di Wakayama sudah dikenal sebagai salah satu tempat pengembangbiakan panda tersukses di luar China.

Korea Selatan menyambut Ai Bao dan Le Bao pada 2016 di Everland Resort, dan merayakan kelahiran Fu Bao pada 2020. Video tingkah lucu Fu Bao viral di seluruh Asia, dan kepulangannya ke China pada 2024 menjadi momen emosional nasional.

Di Asia Tenggara, diplomasi panda memperluas pengaruh China. Timur Tengah: Babak Baru Diplomasi Panda

Malaysia berhasil melahirkan Nuan Nuan pada 2015 di Zoo Negara, sedangkan Thailand terkenal dengan Lin Bing, lahir di Chiang Mai Zoo pada 2009, yang menjadi bayi panda pertama di Asia Tenggara. Singapura juga sukses menyambut kelahiran Le Le pada 2021 di River Wonders.

Sementara itu di belahan bumi selatan, Kebun Binatang Adelaide di Australia menjadi satu-satunya di kawasan Oseania yang memelihara panda, yakni Wang Wang dan Funi, sejak 2009.

Meski belum berhasil melahirkan anak, program ini berkontribusi besar terhadap riset reproduksi global.

Diplomasi Panda di Indonesia: Peran Bersejarah Taman Safari Indonesia

Pada 2017, Indonesia resmi bergabung dengan kelompok elite negara tuan rumah panda ketika Taman Safari Indonesia di Bogor, Provinsi Jawa Barat, membuka Istana Panda.

Dua panda, Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina), tiba dari Provinsi Sichuan dalam program pinjaman selama 10 tahun.

Berlokasi di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut, Istana Panda dirancang menyerupai habitat alami panda, lengkap dengan udara sejuk, rumpun bambu, dan pemandangan pegunungan berkabut.

Proyek ini menjadi simbol 67 tahun hubungan diplomatik Indonesia-China serta berfungsi sebagai pusat edukasi, penelitian, dan pertukaran budaya.

Fasilitas panda di Taman Safari menjadi satu-satunya di Indonesia dan salah satu dari sangat sedikit yang ada di belahan bumi selatan, sejajar dengan Kebun Binatang Adelaide di Australia.

Keberadaannya menunjukkan bagaimana kerja sama lingkungan kini menjadi bagian penting dari diplomasi modern di Asia Tenggara.

Timur Tengah: Babak Baru Diplomasi Panda Kini, lebih dari 20 kebun binatang di 18 negara telah atau pernah menjadi rumah bagi panda, masing-masing berperan dalam kolaborasi dunia untuk melindungi salah satu makhluk paling dicintai di Bumi itu.

Babak terbaru dalam perjalanan global panda terjadi di Timur Tengah, ketika Qatar menjadi negara Arab pertama yang memelihara panda raksasa.

Pada 2022, Si Hai dan Jing Jing tiba dari China untuk menempati Panda House Garden di Al Khor, di utara Doha. Fasilitas seluas lebih dari 120.000 meter persegi ini dibangun sebagai bagian dari inisiatif keberlanjutan Qatar menjelang Piala Dunia FIFA 2022.

Kedatangan mereka menandai fase baru hubungan China dengan kawasan Teluk, menonjolkan diplomasi lingkungan dan pertukaran budaya.

Selain Qatar, China dan Uni Emirat Arab (UEA) juga membahas potensi kerja sama terkait panda setelah sukses menjalin kolaborasi konservasi untuk spesies lain.

Meskipun belum ada panda yang tiba di Dubai atau Abu Dhabi, komitmen UEA terhadap pelestarian satwa menunjukkan bahwa kolaborasi serupa sangat mungkin terjadi di masa depan.

Dari Diplomasi Menuju Konservasi Bersama

Dari kemunculan Su-Lin pada 1936 hingga kedatangan Si Hai dan Jing Jing di Qatar, panda raksasa menempuh perjalanan melintasi benua dan ideologi, mempersatukan umat manusia lewat rasa kagum, ilmu pengetahuan, dan niat baik.

Apa yang dimulai sebagai isyarat politik kini telah berkembang menjadi jaringan konservasi global yang mendorong penelitian genetika, nutrisi, dan reproduksi satwa.

Kini, lebih dari 20 kebun binatang di 18 negara telah atau pernah menjadi rumah bagi panda, masing-masing berperan dalam kolaborasi dunia untuk melindungi salah satu makhluk paling dicintai di Bumi itu


Kisah panda raksasa adalah bukti nyata kemampuan manusia untuk bekerja sama, bahwa di tengah perbedaan global sekali pun, kepedulian bersama terhadap alam mampu menjembatani bangsa-bangsa, demikian Xinhua.

Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |