Jakarta (ANTARA) - Tema Natal bersama KWI dan PGI tahun ini, "Allah hadir untuk Menyelamatkan Keluarga" (Bdk. Mat 1:21-24), layak dibaca, bukan hanya sebagai pesan iman, tetapi juga sebagai refleksi sosial atas situasi keluarga Indonesia, hari ini.
Di tengah maraknya judi online, jeratan pinjaman digital, meningkatnya angka perceraian, serta penderitaan akibat bencana ekologis, keluarga berada dalam tekanan yang kian kompleks. Natal hadir sebagai kritik, sekaligus pengharapan. Kritik terhadap struktur sosial yang melemahkan keluarga, dan pengharapan bahwa Allah tidak meninggalkan mereka.
Dalam tradisi Kristiani, keluarga bukan sekadar unit sosial, melainkan ruang pertama tempat kehidupan, nilai, dan iman ditumbuhkan. Kitab Suci menegaskan bahwa sejak awal, Allah mempercayakan kehidupan kepada relasi keluarga (Kejadian 1:28).
Hanya saja, relasi ini kerap rusak oleh dosa, keserakahan, dan ketidakadilan struktural. Karena itulah, inti pewartaan Natal menjadi sangat radikal: Allah tidak menunggu manusia menjadi sempurna, melainkan datang masuk ke dalam kerapuhan hidup manusia itu sendiri. "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita" (Yohanes 1:14).
Lahir dalam keluarga
Yesus Kristus lahir bukan di ruang aman dan mapan, melainkan di palungan yang sederhana (bdk. Lukas 2:7). Ia bertumbuh dalam keluarga yang harus berjuang secara ekonomi dan bahkan mengalami pengungsian demi menyelamatkan hidup (bdk. Matius 2:13–15).
Kisah ini menegaskan bahwa sejak awal, Allah memilih jalan keluarga, dengan segala keterbatasannya, sebagai sarana keselamatan. Maka, keluarga yang hari ini rapuh karena tekanan ekonomi, konflik relasi, atau dampak krisis ekologis, sesungguhnya tidak asing bagi Allah.
Pesan ini ditegaskan kembali oleh Gereja Katolik dalam berbagai dokumen resminya. Dalam Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II menyebut keluarga sebagai "Gereja rumah tangga" (ecclesia domestica), tempat iman dihidupi secara konkret.
Pada saat yang sama, ia juga mengingatkan bahwa keluarga rentan terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang tidak selalu berpihak pada kehidupan. Karena itu, gereja dipanggil bukan hanya memberkati keluarga, tetapi juga membela dan mendampingi mereka.
Realitas hari ini menunjukkan betapa relevan peringatan tersebut. Judi online, misalnya, bukan sekadar persoalan moral individual, melainkan industri digital yang merusak ekonomi rumah tangga dan relasi antaranggota keluarga. Pinjaman digital ilegal menjebak keluarga dalam lingkaran utang, tanpa perlindungan.
Di sisi lain, krisis ekologis, banjir, longsor, dan kekeringan, menghantam keluarga kecil yang kehilangan rumah dan mata pencaharian. Dalam konteks ini, Natal tidak bisa direduksi menjadi perayaan simbolik yang terpisah dari penderitaan nyata.
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































