Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) menggerakkan para penghulu dan penyuluh untuk mengedukasi remaja tentang perencanaan keluarga guna mengatasi fenomena takut menikah.
"Upaya pemerintah saat ini edukasi kepada remaja melalui bimbingan teknis bagi penghulu dan penyuluh, untuk memberikan edukasi kepada remaja usia sekolah mengenai kehidupan pernikahan," kata Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK Woro Srihastuti Sulistyaningrum di Jakarta, Kamis.
Woro menjelaskan, edukasi tersebut bertujuan memberikan gambaran realistis tentang tantangan dan tanggung jawab dalam berkeluarga, sekaligus menekankan pentingnya perencanaan.
Selain itu, menurutnya, pendidikan kesehatan reproduksi juga menjadi hal penting, mengingat isu kesehatan reproduksi masih dianggap tabu di sebagian keluarga. Padahal, pemahaman sejak dini sangat diperlukan agar remaja mampu mengenal diri, menjaga kesehatan, dan merencanakan masa depannya dengan baik.
"Kami juga melibatkan remaja secara langsung melalui program Generasi Berencana (Genre) di Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, di mana remaja menjadi subjek yang aktif menyampaikan pesan kepada sebayanya " ujar dia.
Di era digital, Kemenko PMK juga mendorong anak-anak muda untuk memenuhi media sosial dengan konten positif sebagai bagian dari literasi dan edukasi.
"Baru-baru ini juga diluncurkan Astamantra untuk membangun keluarga di era digital, antara lain dengan mengurangi screen time (waktu bermain gawai), dan memperbanyak green time (waktu tanpa gawai). Selain itu, juga memperkuat pengasuhan dan membangun kembali kedekatan antaranggota keluarga," paparnya.
Kemenko PMK, lanjut dia, juga menginisiasi Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga, yang mendorong aktivitas keluarga tanpa gawai dalam satu jam setiap hari.
"Seluruh upaya ini bermuara pada satu tujuan utama, yaitu membangun keluarga yang berkualitas. Prinsip yang kita dorong saat ini bukan semata soal jumlah anak, melainkan kualitas sumber daya manusia. Dua anak, tiga anak, atau jumlah lainnya bukan persoalan utama, sepanjang keluarga tersebut mampu membesarkan anak-anak yang sehat, berpendidikan, dan berkualitas," ucap Woro.
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































