Jakarta (ANTARA) - Pagi di halaman Gelora Bung Karno masih menyimpan sisa embun, ketika Sri Yuniarti, perempuan yang akan mudik, bergegas sambil menggenggam erat tangan putri kecilnya.
Lebaran memang masih tiga hari lagi, namun itu tak lantas menyurutkan langkah dia untuk bergegas mudik. Di hadapannya, deretan bus berjejer rapi, mesin menyala pelan, seolah ikut merasakan degup rindu para penumpangnya.
Sri merapikan tas kecil yang berisi pakaian dan penganan sederhana, oleh-oleh kecil untuk orang tua di Klaten, Jawa Tengah, saat mudik. Tampak berat, meski sejujurnya yang paling berat bukanlah barang bawaan itu, melainkan rasa rindu yang selama setahun terakhir ia simpan diam-diam, di tengah hiruk-pikuk Jakarta.
Bagi Sri, mudik bukan sekadar perjalanan fisik. Mudik menjadi ruang untuk kembali menjadi anak, bukan hanya seorang ibu atau pekerja.
Di momen seperti inilah, bagi orang yang mudik, jarak antara kota dan kampung tidak lagi diukur dalam kilometer, tetapi dalam kehangatan pelukan yang telah lama ditunggu.
“Saya sudah tiga tahun ikut Program Mudik Gratis dan saya senang sekali. Pelayanannya bagus, semuanya bagus pokoknya. Kami juga merasa ringan, merasa senang,” kata Sri yang tahun ini ikut Program Mudik Bersama 2026.
Cerita Sri adalah potret kecil dari jutaan kisah mudik di Indonesia. Setiap tahun, arus besar manusia bergerak serentak menuju kampung halaman.
Jalanan padat, stasiun penuh, terminal riuh oleh koper dan kardus yang ditumpuk rapi. Di balik semua itu, ada satu kesamaan yang mengikat sesama orang mudik, dalam bentuk rindu yang ingin dituntaskan.
D balik sakralnya perjalanan mudik itu, ada realitas yang tak selalu ringan. Biaya transportasi yang meningkat, perjalanan panjang yang melelahkan, serta ketidakpastian di tengah padatnya arus mudik sering kali menjadi beban tersendiri bagi banyak keluarga.
Tidak sedikit yang harus menimbang ulang rencana mudik, bahkan menunda keinginan untuk bertemu orang tua demi menjaga stabilitas keuangan.
Di titik inilah, makna mudik mulai bergeser dari sekadar tradisi menjadi persoalan akses. Siapa yang bisa pulang, dan siapa yang harus menunggu?
Pertanyaan ini menjadi penting di tengah kondisi ekonomi yang menuntut banyak keluarga untuk lebih berhitung, termasuk untuk keperluan mudik.
Mudik gratis
Kehadiran program mudik bareng gratis menjadi jawaban atas kegelisahan itu. Mudik bukan hanya tentang transportasi, tetapi tentang membuka kembali peluang bagi banyak orang untuk tetap pulang, tanpa dibebani biaya yang memberatkan.
Ketika ongkos perjalanan dapat ditekan, termasuk untuk mudik, ruang dalam anggaran keluarga pun terbuka untuk berbagi dengan orang tua, membantu saudara, atau sekadar membawa kebahagiaan kecil ke kampung halaman.
Program mudik gratis oleh banyak entitas bisnis, baik milik pemerintah maupun swasta, perlu terus untuk digalakkan.
Salah satu yang rutin melaksanakan mudik, di antaranya holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, bersama anggota grupnya, yakni ANTAM, Bukit Asam, INALUM, TIMAH, dan Vale Indonesia.
Tahun ini mereka, sebagai bentuk hadirnya negara, memberangkatkan 1.700 pemudik menggunakan 28 bus dan 4 kapal, inisiatif ini menghadirkan bentuk nyata dari kehadiran perusahaan di tengah masyarakat yang tengah menanggung rindu untuk mudik.
Selain mereka, sederet entitas bisnis lain pun melakukan hal serupa, mudik gratis. Ini menunjukkan bahwa peran dunia usaha tidak berhenti pada aktivitas bisnis semata.
Sejatinya lebih dari angka-angka berapa yang berhasil diberangkatkan untuk mudik, tapi yang terasa adalah dampaknya pada masyarakat.
Copyright © ANTARA 2026


















































