Surabaya (ANTARA) - Tidak semua ruang hijau lahir hanya untuk dipandang. Ada yang tumbuh menjadi ruang belajar, ruang penelitian, ruang olahraga, sekaligus ruang yang mengajarkan manusia tentang cara hidup berdampingan dengan alam.
Kebun Raya Mangrove (KRM) di Kota Surabaya, Jawa Timur, perlahan bergerak ke arah itu. Kawasan pesisir yang dahulu lebih dikenal sebagai benteng alami penahan abrasi, kini berkembang menjadi simpul baru konservasi, inovasi, dan pendidikan lingkungan di tengah kota metropolitan.
Transformasi tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian alam tidak lagi cukup dipahami sebagai upaya menjaga pohon tetap berdiri, melainkan juga memastikan ekosistem mampu memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Di tengah tekanan perubahan iklim, meningkatnya suhu perkotaan, hingga persoalan sampah yang belum sepenuhnya terselesaikan, keberadaan kawasan mangrove menjadi semakin penting.
Surabaya memilih menjadikan tantangan tersebut sebagai peluang dengan mengembangkan Kebun Raya Mangrove sebagai laboratorium hidup yang mempertemukan riset, teknologi, edukasi, dan partisipasi masyarakat. Pendekatan ini menawarkan wajah baru konservasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menanam makna
Selama bertahun-tahun, kawasan mangrove identik dengan kegiatan penanaman bibit atau wisata susur hutan. Aktivitas tersebut tentu tetap penting, tetapi perkembangan zaman menuntut pendekatan yang lebih luas.
Tantangan lingkungan, kini tidak lagi berdiri sendiri. Krisis iklim, pencemaran plastik, kebutuhan energi bersih, hingga rendahnya literasi lingkungan saling berkaitan dan membutuhkan solusi yang terintegrasi.
Langkah Pemerintah Kota Surabaya menjadikan Kebun Raya Mangrove sebagai laboratorium hidup menunjukkan perubahan paradigma tersebut. Kawasan konservasi tidak lagi diposisikan sebagai ruang pasif, melainkan menjadi tempat berbagai inovasi diuji, sekaligus dikenalkan kepada masyarakat.
Pengunjung bukan hanya menikmati pemandangan, tetapi juga memahami bagaimana panel surya menghasilkan listrik, bagaimana angin pesisir dapat dikonversi menjadi energi, hingga bagaimana limbah plastik dapat diolah melalui teknologi pirolisis menjadi sumber energi alternatif.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































