Surabaya (ANTARA) - Tidak semua rasa takut lahir dari kejahatan besar. Ada kalanya ia tumbuh dari hal-hal yang tampak sepele. Seorang pemilik toko, misalnya, enggan membuka usahanya lebih pagi karena khawatir didatangi kelompok tertentu.
Di sudut lain, pedagang kaki lima merasa harus membayar pungutan di luar ketentuan agar tetap bisa berjualan. Sementara itu, pengendara memilih membayar uang parkir meski mengetahui lokasi tersebut sebenarnya gratis.
Lama-kelamaan, rasa takut itu menjelma menjadi kebiasaan, dan ketika kebiasaan dibiarkan terus berlangsung, lahirlah pembiaran.
Premanisme sesungguhnya bekerja dengan cara seperti itu. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan terbuka, tetapi melalui intimidasi yang membuat masyarakat merasa tidak memiliki pilihan.
Ketika intimidasi menjadi sesuatu yang dianggap lumrah, hukum kehilangan wibawa, sementara ruang publik perlahan dikuasai oleh kekuatan di luar aturan.
Fenomena itu menjadi perhatian di Kota Surabaya, Jawa Timur. Dalam beberapa bulan terakhir, Pemerintah Kota Surabaya bersama aparat penegak hukum membentuk Satgas Anti-Premanisme dan meningkatkan berbagai operasi penertiban.
Langkah tersebut tidak hanya menyasar praktik parkir liar, tetapi juga dugaan penyerobotan aset, pungutan liar, hingga berbagai bentuk intimidasi yang mengganggu ketertiban masyarakat.
Wajah ketakutan
Kasus dugaan penyerobotan ruko di kawasan Ngagel Rejo memperlihatkan bahwa premanisme tidak lagi sekadar persoalan kriminal biasa. Sengketa kepemilikan aset yang semestinya diselesaikan melalui jalur hukum justru berubah menjadi aksi penguasaan paksa dengan melibatkan sekelompok orang.
Pemerintah Kota Surabaya kemudian menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum sembari menegaskan bahwa tidak boleh ada penyelesaian melalui kekerasan.
Peristiwa tersebut menunjukkan satu persoalan yang lebih besar. Yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah bangunan, melainkan kepastian hukum. Ketika seseorang yang telah memperoleh aset secara sah masih menghadapi intimidasi, muncul pertanyaan mengenai seberapa aman investasi dan aktivitas ekonomi dapat berlangsung.
Baca juga: Perjuangan Masjid BJTB hadapi premanisme di kolong Tol Buah Batu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































