Jakarta (ANTARA) - Hanya dalam hitungan jam, tahun 2025 akan ditutup berganti tahun 2026. Bagi Indonesia, tahun 2025 akan tercatat sebagai tahun penting dalam sejarah perberasan nasional.
Produksi beras yang melimpah membuat cadangan beras pemerintah berdiri kokoh, dan sejak tahun ini pemerintah berkomitmen menyetop impor beras.
Pemerintahan Presiden Prabowo bahkan telah menyatakan kemauan politik untuk memproklamasikan kembali keberhasilan Swasembada Beras 2025 pada awal tahun 2026.
Ini adalah capaian bersama yang patut disyukuri. Swasembada beras adalah buah kerja keras petani yang tidak pernah lelah menggenjot produksi demi kemandirian bangsa.
Namun, keberhasilan selalu datang bersama tanggung jawab baru. Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah apa saja tantangan yang menanti setelah proklamasi swasembada beras dikumandangkan?
Pertanyaan ini layak direnungkan para pengambil kebijakan agar swasembada tidak hanya menjadi momen sesaat. Indonesia memiliki pengalaman mencapai swasembada beras pada 1984 dan 2023, tapi sifatnya cenderung “on trend”.
Swasembada Beras 2025 seharusnya membuka sejarah baru, bukan hanya berhasil, tetapi juga berkelanjutan.
Kunci swasembada tetap bertumpu pada produksi dalam negeri. Tanpa produksi berlimpah yang mencukupi kebutuhan nasional, swasembada sulit terwujud.
Karena itu perhatian pemerintah terhadap peningkatan produksi beras menjadi sangat masuk akal. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi beras pada 2025 mencapai 34,77 juta ton, jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 30,9 juta ton.
Bahkan, Food and Agriculture Organization (FAO) memproyeksikan angka yang lebih tinggi lagi. BPS juga mencatat produksi beras nasional pada Januari–Maret 2025 mencapai 8,67 juta ton, meningkat 52,32 persen dibanding periode sama tahun 2024. Data ini menunjukkan lompatan signifikan yang tidak terjadi dengan sendirinya.
Baca juga: Swasembada beras dan jagung, loncatan besar pangan Indonesia
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































