Menengok masa kecil yang hangat dalam "Na Willa"

1 day ago 3
Film ini seolah menegur dengan halus bahwa kompleksitas hidup yang kita rasakan saat dewasa seringkali berakar dari pilihan-pilihan kecil yang kita abaikan.

Jakarta (ANTARA) - Film "Na Willa" hadir sebagai oase di tengah dominasi tontonan anak yang semakin bising dan serba cepat.

Disutradarai oleh Ryan Adriandhy dan diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo, film ini mengajak penonton menelusuri lorong waktu menuju masa kanak-kanak yang sederhana, hangat, dan penuh makna.

Berlatar Surabaya pada 1960-an, kisah berpusat pada Na Willa, anak perempuan berusia enam tahun yang hidup di Gang Krembangan, Surabaya.

Melalui sudut pandangnya, dunia terasa luas sekaligus intim, penuh rasa ingin tahu, imajinatif, dan pertemanan. Bersama Dul, Bud, dan Farida, hari-hari Na Willa diisi dengan permainan sederhana, obrolan ringan, dan petualangan kecil yang justru menyimpan pelajaran hidup besar.

Salah satu kekuatan utama film ini adalah kemampuannya membangkitkan nostalgia tanpa terasa dipaksakan. Penonton diajak kembali ke masa ketika kebahagiaan hadir dari hal-hal sederhana: memasukkan jari jemari ke gundukan kacang hijau dan menikmati limun bersoda dingin di siang hari di warung Cik Mien, atau sekadar berlari di gang sempit.

Dunia yang ditampilkan terasa autentik, sehangat getuk dan buah pisang yang menjadi camilan sehari-hari Na Willa. Berbeda jauh dengan realitas anak masa kini yang lekat dengan makanan instan dan gawai.

Kontras ini menjadi salah satu lapisan penting dalam “Na Willa”. Di tengah dunia anak modern yang kerap tampil “sassy” dan dingin, film ini justru menghadirkan kehangatan yang riil dan membumi. Tidak ada sensasi berlebihan, tidak ada dramatik yang dipaksakan. Yang ada hanyalah kehidupan apa adanya dan justru di situlah letak kekuatannya.

Lebih dari sekadar nostalgia, “Na Willa” juga menjadi cermin yang menjungkirbalikkan persepsi orang dewasa. Dalam kehidupan sehari-hari, kebohongan kerap dianggap sebagai jalan pintas untuk menghindari masalah. Namun melalui sosok Mak yang diperankan dengan pas oleh Irma Rihi, penonton diingatkan pada nilai kejujuran dengan cara yang sederhana namun membekas. Ia mengibaratkan kebohongan seperti kerikil di dalam sepatu: semakin sering seseorang berbohong, semakin banyak kerikil yang mengganggu langkahnya.

Metafora ini terasa kuat karena disampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami anak-anak, tetapi sekaligus relevan bagi orang dewasa.

Baca juga: Visinema optimistis porsi film keluarga masih diminati penonton

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |