Mencari skala ideal dapur MBG

1 hour ago 2
Tanpa pelembagaan yang kuat, desentralisasi dapur berisiko hanya memindahkan titik kegagalan dari satu dapur terpusat yang kelebihan beban ke ratusan dapur kecil yang minim standar.

Jakarta (ANTARA) - Kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo membuktikan bahwa persoalan utama program ini bukan pada niat dasarnya, melainkan pada desain dapur terpusat yang dipaksa melayani beban di luar kapasitasnya.

Pada 1 September 2026, ratusan santri Pondok Pesantren Manba'ul Hikam di Tanggulangin jatuh sakit setelah menyantap menu MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.

Hingga Kamis (3/9), data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat jumlah korban membengkak hingga 730 orang. Para korban tersebut tersebar di 19 satuan pendidikan di sekitar Tanggulangin dan harus mendapat perawatan di delapan rumah sakit.

Kronologi yang terungkap belakangan menunjukkan bahwa makanan tersebut sudah melewati batas aman konsumsi. Petugas SPPG mulai mengolah bahan makanan sejak pukul 00.00 dan selesai dimasak pada pukul 05.00. Namun, ompreng isi makanan baru didistribusikan setelah pukul 11.00 dan baru dikonsumsi oleh para santri menjelang siang hingga selepas tengah hari.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyebut insiden ini sebagai kelalaian, bukan sekadar kecelakaan teknis, karena keterlambatan distribusi semacam itu semestinya bisa dicegah lewat kedisiplinan jadwal kerja dapur.

Akar masalah yang lebih dalam dari persoalan distribusi sebenarnya terletak pada ketimpangan antara kapasitas dapur dan volume produksi yang dibebankan kepadanya. SPPG Kalitengah harus menyediakan sekitar 2.800 porsi per hari untuk 19 lembaga pendidikan, termasuk sekitar seribu porsi bagi pesantren. Beban sebesar itu memaksa dapur berskala kecil memasak sejak dini hari, menyimpan hasil masakan untuk beberapa jam, lalu mendistribusikannya secara bertahap ke sekolah-sekolah yang tersebar.

Hasil penelusuran BGN secara nasional menunjukkan bahwa 80 hingga 90 persen kasus keracunan MBG berkaitan dengan pelanggaran standar operasional prosedur, mencakup kedisiplinan waktu konsumsi, penyimpanan, penerimaan bahan baku, hingga pengaturan suhu makanan.

Menanggapi insiden keracunan ini, BGN mengambil langkah tegas dengan menghentikan operasional SPPG Kalitengah dan menstatuskannya sebagai suspend berat, sekaligus mengevaluasi 174 SPPG lain di sekitarnya.

BGN juga membagi jam kerja SPPG menjadi dua sesi: sesi produksi dan distribusi pada dini hari hingga pagi, serta sesi evaluasi pada sore hari untuk memeriksa penerimaan bahan baku dan mencatat sisa makanan. Selain itu, setiap wadah makanan kini wajib diberi label, pengawasan dilakukan secara daring, dan evaluasi petugas digelar setiap sore pukul 17.00 dengan sanksi tegas mulai dari surat peringatan hingga pencopotan bagi pihak yang lalai.

Baca juga: BGN "suspend" berat SPPG Sidoarjo Talangangin penyebab keracunan MBG

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |