Jakarta (ANTARA) - Kelurahan Kwitang, Jakarta Pusat, meluncurkan program penukaran sampah organik dan anorganik dengan bahan pangan bergizi serta uang tunai untuk mengurangi penumpukan sampah di tingkat permukiman.
Lurah Kwitang Ferry Zahrudin mengatakan program tersebut dilaksanakan di wilayah RW 01 hingga RW 09, dan penimbangan sampah dilakukan secara rutin setiap Jumat pagi di halaman Kantor Kelurahan Kwitang.
"Mekanisme pengumpulan sampahnya dilakukan secara fleksibel. Warga dapat membawa langsung limbah ke kelurahan atau memanfaatkan layanan jemput bola di pos-pos RW setempat," kata Ferry dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Dia menjelaskan program tersebut dijalankan melalui kolaborasi Kelurahan Kwitang, Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), dan mitra Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk pelaksanaan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026.
Menurut dia, mekanisme penukaran dibedakan berdasarkan jenis limbah, baik organik maupun anorganik.
Baca juga: Pemkot Jaktim tekan timbulan sampah hingga 865 ton per hari
Kemudian, pembayaran dapat diterima warga secara tunai pada hari yang sama dengan harga berkisar Rp4.000 hingga Rp6.000 per kilogram.
"Sedangkan sampah organik dikumpulkan, dicatat, dan diserahkan ke Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) untuk diolah menjadi produk, seperti pupuk," ujar Ferry.
Saat ini, kata dia, penukaran masih terbatas pada sayuran dan bahan pangan segar.
Meski demikian, pihaknya membuka peluang perluasan manfaat program tersebut pada masa mendatang.
"Jika evaluasi ke depannya positif, kami akan mempertimbangkan mekanisme penukaran dengan sembako pokok, seperti beras dan minyak goreng bagi warga dengan koleksi sampah terbanyak, agar semangat warga semakin giat," tutur Ferry.
Baca juga: DKI beri sanksi enam perusahaan penyedia layanan angkutan kebersihan
Sementara itu, warga RW 04 Kelurahan Kwitang Sherly mengapresiasi peluncuran program penukaran sampah tersebut.
"Pemilahan sampah ini sudah berjalan dengan pengangkutan oleh Sudin LH dan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) tiga kali seminggu, tapi dengan adanya insentif tukar tambah membuat warga lebih termotivasi lagi," ungkap Sherly.
Dia pun menilai program tersebut cukup baik karena sampah dapat ditukar langsung dengan makanan bergizi, seperti singkong, ubi, dan sayur-sayuran.
Bagi sebagian besar warga, sambung dia, nilai nominal harga sampah bukan menjadi prioritas utama, melainkan dampak lingkungan dalam jangka panjang.
"Yang penting bagi kami adalah bagaimana pengurangan sampah, terutama sampah organik, bisa terjaga untuk masa depan. Jika ada warga yang ingin mengumpulkan botol plastik atau kardus, itu bagus, tapi fokus kami adalah mengurangi volume sampah," pungkas Sherly.
Baca juga: Duren Sawit kembangkan "Gang Hijau" yang terintegrasi bank sampah
Baca juga: Pramono imbau masyarakat tak bakar sampah untuk jaga udara Jakarta
Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































