Makassar (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar berharap Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXIV Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2026, menjadi momentum kebangkitan prestasi di tingkat nasional.
"Seharusnya saya hadir di kampung halaman sendiri, tetapi ada tugas di Jakarta yang tidak bisa ditinggalkan. Namun hati saya tetap bersama bapak-ibusekalian di arena MTQ ini,” ujarnya saat menghadiri dan membuka MTQ XXXIV Sulsel secara virtual di Makassar, Senin.
Dalam pembukaan yang berlangsung meriah itu, sebanyak 1.044 kafilah dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan ambil bagian dalam ajang tersebut.
Hadir langsung Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Ketua DPRD Sulsel, para bupati dan wali kota se-Sulsel, serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel.
Baca juga: Juara MTQ internasional tampil di Istana, Prabowo beri apresiasi
Menteri Agama dalam sambutannya mengingatkan bahwa Sulsel memiliki sejarah panjang dalam penyelenggaraan MTQ Tingkat Nasional.
“MTQ Tingkat Nasional pertama kali digelar di Sulawesi Selatan pada 1970, bahkan MTQ kedua juga masih di sini sebelum akhirnya bergilir ke provinsi lain,” katanya.
Nasaruddin Umar ingin mengingatkan kepada semua pihak dan kafilah di Sulsel agar pembinaan qari dan qariah terus ditingkatkan agar Sulsel bisa masuk tiga besar, bahkan menjadi juara pertama.
“Jangan sampai kita yang memulai tetapi tidak pernah muncul sebagai sepuluh besar. Ini harus menjadi perhatian bersama agar kompetisi itu bisa ditingkatkan," terangnya.
Baca juga: Pramono Anung ingin hidupkan kembali MTQ secara berjenjang
Menag juga menyampaikan rencana kebijakan ke depan terkait penyelenggaraan MTQ. Pemerintah, kata dia, tengah mengkaji untuk meniadakan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) dan fokus pada MTQ yang digelar setiap tahun.
“Energi penyelenggaraan STQ dan MTQ itu sama. Karena itu ke depan kita arahkan semua menjadi MTQ,” ujarnya.
Selain itu, Menag menyoroti semakin kuatnya relevansi Al Qur’an dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, termasuk di era kecerdasan buatan.
“Tidak ada kitab suci yang sedemikian aktif dikaji di laboratorium seperti Al Qur’an. Ayat-ayat sains di dalamnya justru semakin terbukti sejalan dengan temuan modern,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa MTQ bukan sekadar lomba tilawah, melainkan ajang besar yang mencakup berbagai cabang terkait Al Qur’an, mulai dari tilawah, kaligrafi, hingga diskusi ilmiah.
Menag pun menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir langsung di maros.
Baca juga: Pramono juga ingin MTQ digelar dari tingkat kelurahan hingga provinsi
Pewarta: Muh. Hasanuddin
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































