Membaca tanah, menjaga masa depan sawah

1 month ago 33
Setidaknya kami tahu apa yang harus dibenahi. Tanahnya, bukan hanya tanamannya,

Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Tanah yang tidak seimbang ibarat tubuh manusia yang kelelahan. Sekalipun mendapat asupan banyak makanan lezat sarat gizi, tapi tak bisa diserap menjadi sumber kesehatan yang mendukung pertumbuhan optimal.

Kesadaran akan kondisi "tanah lelah" itulah yang melatarbelakangi sekelompok tani di Desa Suwaloh, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur untuk mengundang Mobil Uji Tanah Pupuk Indonesia.

Kedatangan tim agronomis ini memang sudah lama dinanti. Warga penasaran dengan kondisi tanah sawah mereka yang tiada jeda ditanami padi.

Mumpung ada layanan uji tanah gratis yang disediakan Pupuk Indonesia, para petani di Desa Suwaloh berharap mendapat gambaran yang jelas dan pasti akan kesehatan lahan pertanian mereka.

Panas menyengat pun sampai tak dirasa. Tak jadi halangan. Siang itu, sekalipun tak sempat istirahat, sepulang dari sawah, mereka bergegas mendatangi lokasi pertemuan dengan tim agronomis Mobil Uji Tanah (MOT) Pupuk Indonesia, di emperan kios pupuk setempat.

Duduk melingkar, para petani penggarap ini tekun menyimak paparan dan penjelasan tim agronomis Pupuk Indonesia yang disampaikan Mohamad Saiful Anwar tentang tata cara pengujian sampel tanah. Ada sekitar 50 petani ikut berkumpul.

Setelah pertemuan yang dikemas dalam forum rembug tani itu digelar, tim uji tanah Pupuk Indonesia kemudian sigap memeriksa dengan metode sederhana namun terukur.

Sampel tanah diuji berdasarkan lima parameter utama: nitrogen, fosfat, kalium, pH tanah, dan kandungan C-organik.

Saiful pun menjelaskan bahwa dari pemeriksaan sampel itu akan diketahui kondisi kesehatan tanah secara detail.

Hasil uji lab itu pula yang nantinya bakal jadi dasar rekomendasi pemupukan secara terukur dan berimbang.

Hasil awal menunjukkan kondisi tanah relatif masih baik, namun pH tanah cenderung fluktuatif. Tanah dengan pH terlalu rendah berpotensi menghambat penyerapan unsur hara, sementara pH terlalu tinggi juga menurunkan efektivitas pupuk.

"Kalau tanah terlalu asam perlu dolomit, kalau terlalu basa bisa pakai gypsum. Tanpa perbaikan pH, pupuk mahal pun tidak akan bekerja optimal," ujar Saiful mulai menjelaskan.

Tapi yang disampaikan baru beberapa sampel. Sebagian lain dibawa pulang untuk diteliti dan diuji bersama seribu sampel tanah pertanian dari daerah lain. Saiful berulang kali mengatakan bahwa hasilnya tak seketika bisa diperoleh.

Butuh waktu 1-2 pekan untuk menguji dan menganalisis, karena tim MOT Pupuk Indonesia membawa lebih dari 1000 sampel tanah dari 14 kota/kabupaten di Jawa Timur.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |