Wamena (ANTARA) - Anak-anak pedalaman Papua Pegunungan rata-rata setiap pagi pergi ke sekolah hanya mengonsumsi karbohidrat yang diperoleh dari jenis umbi-umbian, seperti singkong, betatas dan keladi, terkadang mereka pergi ke sekolah, tanpa sarapan.
Hal ini menyebabkan tingkat konsentrasi anak-anak pedalaman Papua Pegunungan untuk menerima ilmu pelajaran yang diberikan di sekolah, baik SD, SMP maupun SMA, kemungkinan berbeda dengan saudara-saudara sebayanya di luar Papua.
Melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kebutuhan gizinya sangat lengkap tertuang di dalam satu porsi makanan, seperti karbohidrat, protein hewani, nabati, sayuran serta buah-buah, anak-anak di Papua pedalaman diharapkan kebutuhan gizinya dapat tercukupi dengan baik.
Komposisi makanan bergizi, di antaranya sumber karbohidrat, seperti beras, jagung, umbi-umbian, atau sagu. Lauk-pauk sumber protein hewani berupa ikan, telur, daging dan ayam, sementara nabati berupa tahu, tempe, kacang-kacangan, serta sayuran sebagai sumber vitamin, mineral dan serat dari sayur hijau atau berwarna serta buah-buahan.
Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol ditunjuk oleh Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPPOKP) menjadi simbol percepatan MBG di wilayah Papua Pegunungan.
Menurut orang nomor dua di Provinsi Papua Pegunungan itu, MBG merupakan fondasi awal meletakkan masa depan kepemimpinan daerah itu bagi anak-anak asli di Jayawijaya, Lanny Jaya, Tolikara, Nduga, Yahukimo, Mamberamo Tengah, Pegunungan Bintang, dan Yalimo untuk dipersiapkan menjadi pemimpin di masa depan.
Untuk menjadi pemimpin di masa depan, anak-anak dari delapan kabupaten harus dipersiapkan sejak dini, salah satunya melalui pemberian MBG, sehingga mereka dapat bertumbuh dengan sehat dan memiliki kecerdasan yang baik.
Selain menyiapkan makanan yang baik, generasi muda di wilayah Papua Pegunungan juga harus dipersiapkan layanan pendidikan yang baik, mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Untuk itu program MBG harus terus berjalan di Papua Pegunungan secara optimal.
Tantangan
Untuk mewujudkan program MBG dapat berjalan secara optimal, di wilayah Provinsi Papua Pegunungan tidak segampang seperti daerah lainnya di Indonesia. Terdapat banyak tantangan dari kelompok-kelompok masyarakat yang tidak menerima program nasional tersebut.
Pemerintah daerah, baik provinsi dan kabupaten terus mendorong, membuka cakrawala pikiran masyarakat untuk dapat menerima program MBG sebagai salah satu metode mempercepat pertumbuhan fisik, mental, dan kecerdasan secara optimal.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































