Jakarta (ANTARA) - Lelang spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang dilakukan pemerintah menjadi momentum yang baik untuk mempercepat adopsi konektivitas digital 5G di Indonesia.
Spektrum frekuensi tersebut dinilai dapat mengakomodasi kebutuhan 5G sehingga adopsi 5G diproyeksikan dapat meningkat lebih dari enam kali lipat pada 2030 dibandingkan kondisi cakupan 5G saat ini.
"Dengan dilepaskannya spektrum baru dan dapat meningkatkan perilisan 5G, kami melihat akan ada peningkatan yang lebih cepat pada akhir dekade ini. Dengan demikian akan ada sepertiga populasi menggunakan 5G di akhir dekade ini dengan cakupan yang kuat," kata Kepala GSMA Asia Pasifik Julian Gorman dalam diskusi virtual dengan media yang diikuti, Kamis.
Baca juga: Hasil seleksi pengguna frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz telah disahkan
Berdasarkan laporan GSMA Mobile Economy Asia Pacific 2026 yang dipaparkan organisasi ekosistem seluler global tersebut, cakupan 5G di Indonesia hingga 2025 berada pada angka 10 persen dari total populasi dan diproyeksikan bisa mencapai 32 persen pada 2030.
Gorman mengatakan langkah pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) melepas spektrum untuk lebih banyak ruang 5G berkembang dan memperbarui regulasi terkait lelang frekuensi tidak hanya berdampak baik kepada adopsi 5G, tapi, juga kepada investasi yang dilakukan industri.
Pembaruan regulasi tentang spektrum frekuensi pada kesempatan kali ini dinilai menciptakan nilai ekonomi yang seimbang sehingga lelang frekuensi 5G pada 2026 berjalan dengan sukses.
Apabila momentum itu bisa dipertahankan maka akan lebih banyak kesempatan terbuka untuk mempercepat adopsi 5G bahkan menghadirkan solusi terkait layanan seluler yang lebih mutakhir di Indonesia.
"Saya rasa hal ini mendorong investasi pada konektivitas digital bisa lebih stabil pada masa mendatang, selain itu hal ini juga dapat menghadirkan prospek yang lebih stabil dalam hal menghadirkan teknologi seluler di masa mendatang," kata Gorman.
Meski begitu tetap ada faktor yang harus diperhatikan selain ketersediaan konektivitas 5G untuk meningkatkan adopsinya, yaitu ketersediaan gawai yang kini harganya tengah mengalami peningkatan.
Kenaikan harga memori dan chip di pasar global, tidak dapat dimungkiri ketersediaan gawai yang dapat terhubung konektivitas 5G menjadi lebih sulit diakses.
"Pelambatan adopsi mungkin terjadi karena ketersediaan gawai, apalagi untuk gawai kelas atas yang memang berbiaya tinggi. Kami lihat juga kenaikan harga dari memori dan chip ikut menyebabkan gawai 5G yang pada ujungnya membuat harganya lebih tinggi," kata Gorman.
Kemkomdigi pada April membuka lelang seleksi pengguna pitra frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz untuk memperluas jangkauan telekomunikasi baik jaringan 4G maupun 5G. Pada Juli, Kemkomdigi mengumumkan operator seluler XLSmart, Telkomsel dan Indosat Ooredoo sebagai pengguna pita frekuensi adio 700 MHz dan 2,6 GHz berdasarkan hasil seleksi tersebut.
Baca juga: Menkomdigi umumkan hasil seleksi pengguna frekuensi 700 MHz & 2,6 GHz
Baca juga: XLSMART mulai manfaatkan spektrum baru perluas jaringan 5G Indonesia
Baca juga: Pemenang lelang frekuensi diminta percepat pemerataan internet
Baca juga: Kemkomdigi lelang frekuensi 900 MHz tahun ini dan kaji lelang 3,5 GHz
Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































