Kolaborasi Kemenkes-Kemhan penting lindungi RI dari patogen

3 months ago 28

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti pentingnya kolaborasi antara Kemenkes dan Kementerian Pertahanan untuk melindungi publik dari ancaman mematikan, termasuk yang disebabkan oleh patogen.

"Hal ini penting karena penyakit akibat patogen menyebabkan korban jiwa yang cukup besar," ujar Budi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.

Adapun hal itu dia sampaikan dalam International Military Medicine Symposium and Workshop (IMEDIC) ke-2 bertema “Biosecurity and Biosafety in Healthcare Services” yang bertujuan mempromosikan pertukaran pengetahuan, penyajian teknologi inovatif, dan pengembangan strategi kolaboratif yang menjunjung tinggi integritas sistem kesehatan guna melindungi kesehatan masyarakat dan kesehatan kerja.

Dia juga juga menekankan pentingnya peran seluruh pihak untuk mewaspadai berbagai penyakit yang disebabkan oleh patogen. Oleh karena itu, kata Budi, sektor kesehatan dan pertahanan perlu bekerjasama untuk memetakan dan mencegah potensi penyakit yang berkembang di masyarakat.

“Jika kita well-prepared dan ada kerjasama yang baik antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertahanan, maka wabah penyakit yang berdampak fatal bagi umat manusia dapat kita tangani dengan baik,” kata Budi.

Baca juga: Kemenkes buka Sandbox Kesehatan 2025 akselerasi inovasi digital RI

Dalam keterangan yang sama, eks Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama WHO Profesor Tikki Pangestu menjelaskan inovasi harus diimplementasikan untuk menghasilkan obat-obatan yang mampu mengatasi penyakit masyarakat.

"Setidaknya terdapat dua inovasi penting yang baru saya dengar yaitu stem cell therapy dan tobacco harm reduction," ungkapnya.

Tikki menilai, inovasi yang dikombinasikan dengan potensi ekonomi menjadi modal yang sangat baik di sektor kesehatan.

Ketua BPOM Taruna Ikrar mengungkapkan dalam paparannya bahwa potensi ekonomi sektor obat dan makanan nasional yang sangat besar, mencapai Rp6 ribu triliun per tahun.

Menurutnya, potensi ini dapat dicapai melalui keterlibatan ratusan ribu pelaku usaha skala kecil hingga besar.

“Indonesia memiliki 18 ribu jenis obat herbal asli, tertinggi di dunia. BPOM melihat ini sebagai peluang yang menjanjikan untuk dikembangkan menjadi produk medis global,” kata Taruna.

Adapun IMEDIC 2025 melibatkan sekitar 200 orang peserta yang berasal dari perwakilan kementerian/lembaga serta para ahli medis militer dari seluruh dunia.

Ketua Panitia Penyelenggara IMEDIC 2025 Dr. dr Dian Andriani menyebutkan bahwa IMEDIC 2025 merupakan forum yang strategis khususnya dalam membahas strategi dan inovasi di sektor kesehatan dan obat-obatan.

“Mari kita berbagi ilmu pengetahuan, membangun kemitraan, dan memperbarui komitmen untuk melindungi manusia melalui ilmu pengetahuan, kedisiplinan, dan kasih sayang. Saya perlu mengingatkan, dalam ancaman biologi, kekuatan pertahanan kita ada di kerjasama," katanya.

Baca juga: Menkes yakin CKG mampu capai cakupan 70 juta orang pada 2025

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |