KLH dukung peran mahasiswa percepat transportasi rendah emisi

2 weeks ago 9

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menegaskan sektor transportasi menjadi salah satu penentu keberhasilan pencapaian target penurunan emisi nasional, sehingga membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda sebagai agen perubahan.

Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Haruki Agustina saat ditemui di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa pengembangan kepemimpinan mahasiswa di bidang transportasi berkelanjutan menjadi langkah strategis untuk mendorong aksi mitigasi perubahan iklim yang konkret dan berkelanjutan.

“Sektor transportasi merupakan salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca. Karena itu, diperlukan pemimpin-pemimpin muda yang mampu menghadirkan gagasan, inovasi, dan aksi nyata untuk mendorong transformasi menuju transportasi rendah emisi,” katanya saat menghadiri Booth Camp Future Leaders in Sustainable Transport (FIRST) yang diselenggarakan World Resources Institute (WRI) Indonesia.

Haruki menjelaskan bahwa komitmen Indonesia dalam penurunan emisi telah tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai peta jalan pembangunan rendah karbon.

Dalam kerangka tersebut, sektor transportasi menjadi subsektor strategis yang menuntut perubahan pola mobilitas masyarakat, termasuk peralihan ke angkutan umum, integrasi antarmoda, elektrifikasi kendaraan, serta penguatan moda berjalan kaki dan bersepeda.

Menurut dia, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam mencapai target penurunan emisi tersebut, sehingga kolaborasi dengan akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, dan generasi muda menjadi kunci.

Hal ini penting menyusul berdasarkan kajian Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sejak tahun 1970 sampai dengan 2023 didapati lonjakan suhu permukaan bumi hingga 1,45 derajat Celsius, yang mana Sektor transportasi jadi salah satu penyumbang terbesar.

Tingkat kenaikan suhu global dari WMO itu terpaut 0,05 derajat dari ambang batas peningkatan suhu permukaan yang disepakati negara-negara dunia, termasuk Indonesia dalam konferensi Paris Agreement 2015 yakni setinggi 1,5 derajat Celsius.

"Khusus bagi kalangan mahasiswa diharapkan mampu menjembatani visi kebijakan nasional dengan implementasi di tingkat lokal melalui riset, kampanye, dan inovasi transportasi berkelanjutan," cetusnya.

Program FIRST yang didukung lembaga kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris itu diikuti 30 mahasiswa dari berbagai daerah seperti Jabodetabek, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar.

Program ini menjadi wadah pengembangan kepemimpinan untuk menyiapkan generasi masa depan yang berperan aktif dalam mendorong transportasi rendah emisi. Para peserta mendapatkan bekal pendampingan bidang teknologi-inovasi digital, kebijakan -regulasi dan kebudayaan dari instruktur profesional lembaga pemerintah maupun swasta multinasional selama satu pekan penuh.

Haruki berharap para peserta dapat menjadi agent of change yang memperkuat upaya mitigasi iklim di sektor transportasi sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan kota yang lebih layak huni, sehat, dan berkeadilan di masa depan.

Baca juga: WRI Indonesia: Transisi iklim harus berpihak pada manusia dan alam

Baca juga: WRI soroti peran sektor industri mencapai target iklim Indonesia

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |