Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai perluasan pendidikan dan pelatihan vokasi industri yang berbasis kompetensi hijau mampu mempercepat transformasi tenaga kerja di sektor ramah lingkungan (green jobs) yang semakin relevan dan diminati.
“Perluasan ini dapat dilakukan melalui reformasi kurikulum agar selaras dengan kebutuhan green jobs,” kata Pembina Industri Ahli Madya Pusat Industri Hijau Kemenperin RR Sri Gadis Pari Bekti dalam diskusi publik di Jakarta, Senin.
Lebih lanjut, Sri mengatakan Kemenperin memprioritaskan program peningkatan kompetensi (upskilling and reskilling) bagi pekerja yang terdampak transisi energi, khususnya dari sektor batu bara, agar mereka memiliki keterampilan lain yang dibutuhkan.
“Selain itu, kami juga mendorong kolaborasi antara industri, hingga lembaga vokasi untuk menciptakan program magang dan sertifikasi yang diakui,” ujar dia.
Baca juga: Menaker ajak perguruan tinggi siapkan SDM hadapi transisi energi hijau
Ia menilai, upaya ini harus menjadi perhatian mengingat masih adanya kesenjangan keterampilan (skill gap) angkatan kerja di Indonesia, terutama yang berasal dari sektor konvensional yang belum memiliki keterampilan dan kompetensi relevan dengan kebutuhan green jobs.
Adapun langkah lain yang disiapkan Kemenperin untuk mendukung industri hijau adalah dengan menyusun peta jalan green jobs yang mampu mendukung dekarbonisasi dan transisi energi, mendukung ekonomi sirkular termasuk pengelolaan limbah dan bahan baku daur ulang, serta mendukung investasi dan teknologi hijau.
Sri menilai, upaya-upaya ini diperlukan untuk menangkap peluang dari green jobs seiring dengan transisi energi berkeadilan (just energy transition) yang tengah didorong secara global.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































