Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meyakini pasar industri olahraga nasional terus meningkat seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin aktif dan sehat.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan perkembangan industri sport and active wear menunjukkan prospek yang menjanjikan, terutama dengan meningkatnya permintaan konsumen terhadap produk olahraga yang berkualitas dan inovatif.
Faisol saat membuka Indonesia Sport and Active Wear (ISAW) & Cosmetic Day 2026 di Jakarta, Senin, menyampaikan berdasarkan laporan Sportswear in Indonesia yang diterbitkan Euromonitor International pada Februari 2026, nilai pasar sportswear Indonesia mencapai sekitar Rp38,5 triliun pada 2025 atau tumbuh sekitar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ke depan, pasar tersebut diproyeksikan terus berkembang hingga mencapai sekitar Rp58,6 triliun pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) sekitar 9 persen selama periode 2025–2030.
Wamenperin Faisol menilai besarnya potensi pasar tersebut harus dimanfaatkan industri dalam negeri, khususnya industri kecil dan menengah (IKM), agar mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat posisi merek lokal.
"Potensi pasar yang besar tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri dalam negeri untuk terus meningkatkan daya saing. Dalam konteks itulah, ISAW & Cosmetic Day 2026 memiliki arti yang sangat strategis,” tuturnya.
Ia menambahkan keberhasilan merek lokal menjadi bagian dari ekosistem olahraga nasional menunjukkan kemampuan industri dalam negeri untuk bersaing.
Baca juga: Wamenperin optimistis PMI manufaktur RI terus meningkat
Baca juga: Wamenperin dorong industri tekstil nasional perkuat daya saing global
Selain potensi pasar domestik, Faisol mengatakan daya saing industri pakaian olahraga nasional juga didukung oleh kinerja ekspor yang terus menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil meningkat dari 7,08 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 7,27 miliar dolar AS pada 2025 atau tumbuh 2,7 persen.
Sementara itu, industri alat olahraga mencatat pertumbuhan ekspor sebesar 12 persen, dari 274,4 juta dolar AS menjadi 306,3 juta dolar AS.
“Tren positif tersebut menunjukkan semakin kuatnya daya saing industri apparel nasional, termasuk produk pakaian olahraga, di pasar global,” kata Faisol.
Lebih lanjut, ia menyebut industri pakaian jadi, alas kaki dan alat olahraga memiliki peran strategis karena merupakan sektor padat karya yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, serta memberdayakan masyarakat.
Kemenperin mencatat subsektor pakaian jadi pada 2024 memiliki sekitar 594 ribu unit usaha industri kecil dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 1,2 juta orang.
Sementara subsektor kulit, produk kulit, dan alas kaki memiliki 53 ribu unit usaha industri kecil dengan penyerapan 205 ribu tenaga kerja.
Pada subsektor industri alat olahraga, berdasarkan data SIINas dan BPS, terdapat 128 unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 15.663 orang pada 2024.
Untuk memperkuat daya saing IKM, pihaknya terus menjalankan berbagai program, mulai dari peningkatan kompetensi sumber daya manusia, modernisasi teknologi dan peralatan produksi, penguatan standardisasi dan sertifikasi, hingga perluasan akses pasar dan kemitraan.
Baca juga: Kemenperin pacu daya saing IKM pangan lewat hilirisasi berbasis agro
Baca juga: Wamenperin: MBG inisiatif mulia, perbaikan tata kelola langkah penting
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































