Rumah Energi gagas fasilitas biogas, tekan emisi 2,5 ton CO2 per tahun

2 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Yayasan Rumah Energi menggagas program fasilitas biogas yang mampu menekan emisi 2,5 ton setara karbon dioksida (CO₂e) per tahun serta rumah pengering berbasis tenaga surya (Solar Dryer House) di Sukabumi, Jawa Barat.

“Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat sejak perencanaan hingga pengelolaan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan,” kata Direktur Yayasan Rumah Energi Sumanda Tondang dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Kamis.

Fasilitas biogas dan Solar Dryer House ini digagas Rumah Energi dan PT Insight Investment Management dan didukung pendanaan Ford Foundation dalam kerangka proyek Pro Women 3. Sumanda mengatakan perluasan program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat model energi terbarukan berbasis komunitas.

Peresmian fasilitas tersebut, Kamis, dilakukan oleh Bupati Sukabumi Asep Japar di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, untuk fasilitas biogas, serta di Kampung Babakan Asem, Desa Loji, untuk Solar Dryer House. Acara peresmian itu juga dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Budi Azhar Mutawali.

Menurut Rumah Energi, program biogas di Kampung Cihurang memanfaatkan limbah organik dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk diolah menjadi energi bersih kebutuhan memasak warga. Selain mengurangi volume sampah organik, pemanfaatan tersebut berpotensi menekan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 2,5 ton setara karbon dioksida per tahun serta mengurangi ketergantungan pada LPG.

Residu biogas juga dapat diolah menjadi pupuk cair dan padat guna mendukung praktik pertanian ramah lingkungan di tingkat desa.

Sementara itu, Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem, kata Sumanda, dikembangkan untuk menjawab persoalan pengeringan pascapanen bawang merah dan padi yang selama ini masih mengandalkan penjemuran terbuka. Teknologi pengering berbasis energi matahari tersebut dirancang menjaga kestabilan suhu sehingga kualitas hasil panen lebih merata dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

Bupati Sukabumi Asep Japar, dalam peresmian, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat yang dinilai mampu memberikan manfaat lingkungan sekaligus ekonomi bagi warga desa.

“Pemanfaatan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih bisa hadir dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta peningkatan kesejahteraan warga,” kata Asep.

Rumah Energi menyatakan model kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta tersebut diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain sebagai bagian dari pembangunan rendah karbon berbasis desa.

Baca juga: Rumah Energi-Microsoft perkuat akses air bersih lewat teknologi IPAH

Baca juga: Indonesia tetapkan target emisi hingga 1,5 gigaton CO2 pada 2035

Baca juga: Bank Jakarta-PMI bangun biodigester penghasil biogas di Pekayon

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |