Kemenkes beri kiat sederhana hadapi post-holiday blues setelah mudik

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan fenomena mudik bukan sekadar mobilitas, melainkan ritual sosial yang sarat makna, yang dapat memunculkan dinamika psikologis, yakni post-holiday blues atau tantangan kesehatan mental setelah liburan, dan ada kiat sederhana untuk mengatasinya.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi di Jakarta, Kamis, mengatakan setelah Lebaran, banyak orang mengalami gejala, seperti sedih, lelah, cemas, kehilangan motivasi, dan sulit berkonsentrasi, akibat sejumlah faktor, antara lain perjalanan panjang, tekanan finansial, dan ekspektasi untuk tampil sukses.

"Survei World Travel & Tourism Council (WTTC) tahun 2023, mencatat 41 persen pemudik Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi ringan hingga sedang," kata Imran.

Baca juga: Atur pola tidur-makan setelah liburan jadi solusi bangkitkan kerja

Menurutnya, fenomena ini memiliki dampak luas, seperti produktivitas kerja menurun, biaya ekonomi meningkat akibat absensi dan penurunan kinerja, serta risiko gangguan mental lebih serius jika tidak ditangani. Rendahnya angka pencarian bantuan di Indonesia, karena stigma dan keterbatasan layanan menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan.

Dia menyebutkan cara mengatasi post-holiday blues cukup sederhana, tetapi membutuhkan kesadaran diri dan konsistensi. Setelah libur panjang, sebaiknya lakukan transisi secara bertahap, misalnya ambil satu hingga dua hari untuk menata ulang rutinitas sebelum kembali bekerja penuh.

"Menjaga rutinitas kesehatan dasar juga penting. Tidur teratur, makan seimbang dan olahraga ringan dapat membantu tubuh dan pikiran beradaptasi kembali," katanya.

Selain itu, tetap menjaga koneksi sosial sangat bermanfaat. Menjadwalkan panggilan video dengan keluarga atau sahabat bisa mengurangi rasa kehilangan setelah kembali ke kota.

Membatasi paparan media sosial juga perlu, karena sering kali perbandingan dengan kehidupan orang lain justru memperburuk suasana hati. Memanfaatkan ruang publik, seperti taman atau komunitas olahraga dapat mengurangi rasa isolasi dan menghadirkan energi positif.

Baca juga: Perbedaan "burnout" dengan "post holiday blues"

"Jika gejala berlanjut lebih dari dua minggu atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater," katanya.

Kini banyak layanan tersedia secara online, sehingga akses bantuan lebih mudah dan cepat. Dengan langkah-langkah ini, post-holiday blues bisa diatasi, dan liburan tetap menjadi kenangan indah tanpa meninggalkan beban psikologis berkepanjangan.

Dia menyebutkan Lebaran 2026 diprediksi menjadi salah satu arus mudik terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan lebih dari 120 juta perjalanan dilakukan selama periode mudik, dengan puncak arus balik mencapai rekor kepadatan di jalur tol Trans-Jawa dan jalur kereta api.

Imran mengatakan post-holiday blues adalah sebuah fenomena global, yang ditemukan di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada. Setelah libur panjang Natal dan Tahun Baru, banyak negara melaporkan peningkatan masalah kesehatan mental.

Contohnya, di Amerika Serikat, sekitar 6,2 persen orang dewasa mengalami gejala Christmas Depression setiap tahun, dan antara 4,1 persen hingga 8,2 persen memenuhi kriteria klinis selama musim liburan.

Kemudian, katanya, kelompok rentan di Indonesia menghadapi tantangan kesehatan mental yang cukup khas setelah libur panjang, terutama setelah Lebaran. Remaja dan mahasiswa sering kali lebih mudah mengalami gangguan emosional, karena masa transisi mereka yang penuh tekanan, baik akademik maupun sosial.

Baca juga: Apa itu Holiday Blues? Kondisi tidak bersemangat saat liburan tiba

Baca juga: Kenali "post holiday blues" yang bisa dialami pekerja maupun pelajar

Perantau, yang harus kembali ke kota setelah hangatnya kebersamaan di kampung halaman, kerap merasakan kesepian dan kehilangan dukungan emosional. Perempuan juga lebih rentan terhadap depresi, dipengaruhi oleh tekanan sosial, peran ganda dalam keluarga, serta beban finansial. Sementara itu, lansia menghadapi risiko lebih tinggi akibat kesepian dan penyakit kronis.

"Gambaran ini menunjukkan bahwa fenomena post-holiday blues bukan hanya terjadi di Indonesia setelah Lebaran, tetapi juga merupakan pola global yang dipengaruhi oleh tekanan sosial, ekspektasi kebahagiaan, serta transisi mendadak kembali ke rutinitas," katanya.

Dia mengatakan bahwa post-holiday blues bukanlah kelemahan, melainkan fenomena manusiawi yang bisa diatasi dengan dukungan sosial, kesadaran diri, dan intervensi tepat. Dengan memahami dinamika ini, Lebaran bisa menjadi bukan hanya momen silaturahim, tetapi juga titik awal membangun ketahanan mental bersama.

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |