Kemenangan di meja makan

19 hours ago 5
Selama Ramadhan, tentunya tubuh telah terbiasa dengan pola makan yang lebih teratur, sehingga perlu dipastikan, saat Lebaran, pola tersebut jangan berubah

Jakarta (ANTARA) - Lantunan gema takbir menandai datangnya Idul Fitri setelah satu bulan lamanya menjalani ibadah puasa. Dalam tradisi masyarakat, perayaan hari kemenangan ini hampir selalu dirayakan kolektif di meja-meja makan.

Sajian ketupat, opor ayam, rendang, kue-kue kering, hingga aneka hidangan istimewa lainnya melengkapi momen bahagia berkumpul bersama keluarga.

Namun, deretan hidangan istimewa ini tidak boleh lantas dianggap sebagai "hadiah" setelah sebulan berpuasa, karena esensi dari kemenangan adalah ketika Idul Fitri menjadikan kita kembali ke fitrah, kembali ke keseimbangan.

Seimbang antara menjalani Lebaran dengan bahagia, namun tetap bijaksana dan tidak berlebihan dengan cara mengatur porsi makan.

Selama Ramadhan, tentunya tubuh telah terbiasa dengan pola makan yang lebih teratur, sehingga perlu dipastikan, saat Lebaran, pola tersebut jangan berubah.

Hal ini senada dengan yang disampaikan Asisten Deputi Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan, Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Linda Restaningrum bahwa di balik kelezatan hidangan Lebaran ada risiko kesehatan yang kadang luput disadari.

Makanan tinggi lemak, gula, dan garam, ketika dikonsumsi secara berlebihan bisa menjadi faktor risiko yang memicu berbagai keluhan kesehatan.

Mulai dari gangguan pencernaan, kenaikan berat badan secara cepat, hingga peningkatan kadar gula darah. Sehingga pengaturan porsi makan menjadi kunci agar bisa tetap sehat di hari yang fitri.

Pengaturan pola konsumsi tersebut bisa dimulai dari memperhatikan keseimbangan isi piring. Memastikan asupan makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan telah sesuai dengan kampanye "Isi Piringku" dari Kementerian Kesehatan.

Selain itu, mengambil makan dalam porsi kecil, membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta memperbanyak air putih juga menjadi salah satu kunci untuk menghindari berbagai faktor risiko kesehatan.

Linda Restaningrum juga mengingatkan pentingnya mendengarkan sinyal tubuh, karena tubuh memiliki mekanisme alami untuk memberitahu jika ada yang tidak berjalan normal.

Misalkan, ketika dehidrasi maka akan terasa pusing, bibir kering, atau kulit kering. Makan terlalu banyak lemak akan berdampak pada perut yang terasa tidak nyaman, kembung, hingga kolesterol meningkat.

Jangan abaikan keluhan-keluhan sekecil apapun. Sinyal-sinyal tersebut harus didengar dan dilakukan upaya untuk memperbaikinya.

Untuk memastikan kondisi kesehatan, maka bisa melakukan cek kesehatan sederhana di puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya yang terdekat. Hasil pemeriksaan tersebut bisa menjadi panduan dan rem untuk memperbaiki pola makan, dan menjalani pola hidup yang lebih sehat.

Aktivitas fisik

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |