Kemenag beri pendampingan 30 PTKIS tingkatkan status akreditasi

4 hours ago 7

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama akan memberikan pendampingan intensif kepada 30 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) yang memiliki potensi untuk meningkatkan mutu dan status akreditasinya.

“Kita pilih 30 kampus terbaik ini, setelah kita seleksi, kita dorong untuk yang berpotensi unggul. Kita adakan pendampingan, sehingga nantinya output yang kita inginkan itu ada PTKIS yang akreditasinya nanti unggul,” ujar Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Pendampingan itu disampaikan Suyitno dalam Koordinasi dan Riview Sistem Penjaminan Mutu pada PTKIS di Surabaya pada 26-28 Agustus 2026.

Baca juga: Kemenag gelontorkan dana Rp30 miliar dukung riset dosen berkualitas

Suyitno mengatakan dari sekitar 800 PTKIS, saat ini baru satu perguruan tinggi yang telah meraih akreditasi unggul. Kondisi ini berbeda dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), yang dari 59 PTKIN sebanyak 39 atau lebih dari 50 persen telah berstatus unggul.

Menurut Suyitno, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi Kementerian Agama untuk mendorong PTKIS yang memiliki potensi agar dapat meningkatkan kualitas dan mencapai akreditasi unggul.

Ia menegaskan upaya peningkatan akreditasi tidak boleh berhenti pada pemenuhan dokumen administratif. Akreditasi harus menjadi bagian dari proses membangun sistem dan budaya mutu di lingkungan perguruan tinggi.

“Kita sudah membuat ini adalah proyek yang panjang. Jadi, kalau bicara tentang program panjang, yang ditangani adalah sebuah sistem. Semua instrumen dalam alatnya adalah manusia. Jadi, tidak cukup (yang tinggal ada dokumen. Sekarang dokumen ini benar-benar adalah sebuah aktivitas bukti,” kata dia.

Suyitno mencontohkan berbagai dokumen kerja sama yang dimiliki perguruan tinggi semestinya tidak hanya menjadi arsip, tetapi harus dibuktikan melalui kegiatan dan menghasilkan dampak nyata.

Ia menyebut sejumlah bentuk kerja sama seperti dual degree, kolaborasi riset, pendidikan, maupun program lainnya harus memiliki implementasi yang dapat dilihat hasilnya.

“Selalu ada sesuatu yang impact dari sebuah dokumen. Itulah yang saya maksudkan. Bukan terhenti di sebuah dokumen yang ada,” kata Suyitno.

Menurutnya, budaya mutu perlu dibangun secara bersama-sama di masing-masing kampus dengan memperhatikan karakter dan keunggulan yang dimiliki. Setiap PTKIS tidak harus memiliki pola pengembangan yang sama, karena masing-masing perguruan tinggi memiliki potensi dan kekhasan berbeda.

“Mari kita belajar bagaimana membangun budaya itu di masing-masing kampus kita dengan segala distinsinya,” katanya.

Suyitno juga mendorong PTKIS agar lebih percaya diri dalam menggali dan mengembangkan keunggulan masing-masing.

Baca juga: Menag sebut Indonesia berpotensi jadi episentrum peradaban dunia Islam

Baca juga: Sebanyak 4.241 dosen Kemenag dilatih peningkatan kompetensi dasar

Menurutnya, setiap kampus memiliki kelebihan yang terkadang belum digali secara optimal.

Ia mencontohkan perguruan tinggi yang tumbuh dari lingkungan pesantren memiliki sejumlah kekhasan yang dapat menjadi kekuatan institusi. Salah satunya adalah ekosistem pembelajaran yang telah terbentuk di pesantren.

Menurut Suyitno, keunggulan tersebut perlu dikapitalisasi dan dikembangkan menjadi bagian dari identitas serta kekuatan perguruan tinggi.

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |