Surabaya (ANTARA) - Hamparan lahan yang dahulu hanya menyisakan pandangan kosong di kawasan Kedung Cowek, Kota Surabaya, Jawa Timur, kini berubah menjadi kompleks pendidikan yang berdiri megah. Gedung sekolah, asrama, lapangan olahraga, laboratorium, masjid, hingga ruang serbaguna hadir dalam satu kawasan terpadu.
Transformasi itu menjadi perhatian saat Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) Muhammad Qodari meninjau langsung Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 di Surabaya belum lama ini.
Melalui peninjauan ruang kelas hingga berbagai fasilitas penunjang, kunjungan tersebut menunjukkan kesiapan sekolah untuk memulai kegiatan belajar mengajar pada awal Agustus 2026. Hal ini sekaligus memperlihatkan transformasi lahan kosong menjadi kawasan pendidikan terpadu.
Perubahan fisik itu mudah dilihat. Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting justru berada di balik bangunan tersebut. Mampukah fasilitas yang megah benar-benar mengubah masa depan anak-anak yang selama ini hidup dalam lingkaran kemiskinan?
Pertanyaan itu menjadi relevan karena Sekolah Rakyat bukan sekadar proyek pembangunan gedung pendidikan. Program ini lahir dari gagasan bahwa kemiskinan tidak cukup diatasi melalui bantuan sosial semata, melainkan harus diputus melalui investasi jangka panjang pada sumber daya manusia.
Di Surabaya, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 yang dibangun di atas lahan sekitar 6,6 hektare menjadi salah satu simbol paling nyata dari pendekatan tersebut. Fasilitasnya dirancang lengkap mulai jenjang SD hingga SMA dengan konsep sekolah berasrama yang menyatukan pendidikan, pembinaan karakter, kesehatan, hingga kebutuhan hidup siswa dalam satu ekosistem.
Pada tahap awal, Sekolah Rakyat akan menampung 270 siswa baru dan sekitar 100 siswa angkatan rintisan yang sebelumnya mengikuti pembelajaran di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Program ini diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga miskin pada kelompok desil satu dan dua, termasuk mereka yang putus sekolah atau berisiko putus sekolah.
Di sinilah letak pergeseran cara pandang negara. Selama bertahun-tahun, pendidikan bagi keluarga miskin sering kali dipahami sebatas menggratiskan biaya sekolah. Padahal, hambatan mereka jauh lebih kompleks daripada sekadar uang sekolah.
Baca juga: Qodari: Fasilitas Sekolah Rakyat terintegrasi Surabaya setara swasta
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































