Jamaah haji rentan alami stres akibat perubahan lingkungan

2 weeks ago 7

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Abdul Mujib mengemukakan bahwa jamaah yang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci rentan mengalami stres akibat perubahan lingkungan.

Menurut Mujib, perubahan drastis dari lingkungan rumah yang serba mandiri ke lingkungan asrama yang serba komunal di Arab Saudi menjadi pemicu utama stres.

Baca juga: Rosan: Kampung haji Indonesia berjarak 400 meter dari Masjidil Haram

"Karena dengan perubahan waktu, perubahan sosial, perubahan segalanya itu, dengan kondisi yang awalnya serba mandiri di rumah, kemudian harus dengan akomodasi bersama, itu akan menjadi masalah," ujar Mujib setelah menjadi pemateri diklat calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin.

Oleh karena itu, lanjutnya, para petugas haji harus memiliki asumsi dasar bahwa jamaah akan bermasalah secara psikologis. Asumsi itu penting bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar petugas memiliki kesiagaan penuh sejak awal.

Faktor pemicu stres di Tanah Suci sangat beragam, mulai dari perbedaan iklim yang ekstrem, perbedaan budaya, hingga perubahan pola hidup sehari-hari.

​Ia mencontohkan jamaah yang di rumahnya terbiasa memiliki privasi tinggi, tiba-tiba harus tidur sekamar dengan orang lain dengan karakter berbeda, berbagi kamar mandi, dan makan dengan menu yang mungkin tidak sesuai selera.

Menurut Mujib, akumulasi dari hal-hal kecil tersebut bisa memicu ledakan emosi atau depresi jika tidak ditangani dengan baik.

Mujib mendorong setiap petugas haji, terlepas dari layanan apapun, memiliki kemampuan dasar Pertolongan Pertama Psikologis. Petugas tidak harus menjadi psikolog, namun harus mampu menenangkan jamaah yang panik atau stres.

Baca juga: Garuda Indonesia: Ketepatan waktu angkutan haji 2025 capai 96,2 persen

Baca juga: Menag harap Bandara Taif dapat digunakan oleh jamaah haji Indonesia

​"Setidak-tidaknya ada sesuatu yang umum bisa dikuasai. Misalnya, bagaimana bisa menenangkan orang yang lagi stres atau depresi," ujarnya.

​Ia mengingatkan bahwa pendekatan penanganan stres tidak bisa dipukul rata. Jamaah yang berasal dari perkotaan mungkin memiliki respons stres yang berbeda dengan jamaah dari pedesaan.

Petugas dituntut peka membaca latar belakang sosiologis jamaah untuk memberikan respons yang tepat. "Jika masalah psikologis terlalu berat, petugas harus segera merujuk jamaah tersebut ke tenaga ahli atau tim kesehatan yang tersedia," ujarnya.

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |