Kota Bengkulu (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) Nassarudin Umar melepaskan ribuan bibit ikan endemik yaitu ikan gabus dan ratusan burung pipit di kawasan Danau Dendam Tak Sudah Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, sebagai salah satu upaya pemerintah menjaga dan melestarikan lingkungan.
"Ini adalah simbolisme penyelamatan alam, sekaligus simbolisme persahabatan manusia dengan alam. Semakin bersahabat alam dan manusia, maka semakin makmur, sejahtera kehidupan di alam raya ini," kata Menag Nasaruddin Umar di Danau Dendam Tak Sudah Kota Bengkulu, Kamis.
Untuk itu Menag mengajak seluruh masyarakat di Provinsi Bengkulu untuk ikut merawat lingkungan berserta alam semesta, seperti burung, ikan, hewan, tumbuhan, dan seluruh makhluk hidup.
Baca juga: Menag tegaskan merusak lingkungan menyimpang dari ajaran agama
Menag menyebut burung-burung yang dilepasliarkan di kawasan Danau Dendam Tak Sudah menjadi saksi bahwa Kota Bengkulu menghargai pemandangan yang ditampilkan oleh alam semesta.
Untuk itu, lanjut dia, masyarakat harus menjaga seluruh alam dan jagad raya, serta tidak melakukan tindakan yang mencemari lingkungan.
Baca juga: Menag ingatkan pendekatan ekoteologi dalam kebijakan lingkungan
"Semua jagad raya harus diselamatkan, jangan mencemari lingkungan, karena mencemari lingkungan itu dosa dan kalau besok dunia ini kiamat, maka tetaplah kalian menanam pohon kata Rasulullah. Jadi penting menanam pohon. Tiada hari tanpa menanam pohon dan jangan tiada hari tanpa pembakaran hutan," ucap Menag Nassarudin Umar.
Di sisi lain, Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi mengapresiasi aksi dari Kementerian Agama (Kemenag) dalam rangka melestarikan alam, khususnya di kawasan Danau Dendam Tak Sudah.
"Inikan dalam rangka melestarikan alam, kemudian membuat danau ini ke depan terjaga kelestariannya," kata Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi.
Baca juga: Kemenag ungkap potensi dampak implementasi ekoteologi bagi lingkungan
Pewarta: Anggi Mayasari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































