Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta libatkan 4.700 pengawas madrasah

3 hours ago 1
KBC merupakan pengembangan dari konsep ekoteologi yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam semesta, dan Tuhan

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama melaporkan sebanyak 4.700 pengawas madrasah di seluruh Indonesia akan terlibat dalam mengawal implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menjadi salah satu program prioritas Menteri Agama Nasaruddin Umar.

“Pengawas adalah orang-orang terbaik yang mengawal mutu pendidikan madrasah. Pendidikan harus melahirkan cinta, bukan kebencian,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Sebagai penanda dimulainya gerakan tersebut, diluncurkan Buku Saku KBC bagi Pengawas Madrasah. Buku saku ini telah terintegrasi dengan Madrasah Digital Supervision (MDS) sebagai instrumen pendampingan dan pengawasan implementasi KBC.

Menag mengajak seluruh pengawas madrasah untuk mengawal implementasi KBC secara berkelanjutan. Pengawas memiliki posisi strategis dalam memastikan program-program penguatan karakter berjalan efektif di satuan pendidikan.

Baca juga: Menag tekankan kurikulum berbasis ekoteologi di pendidikan keagamaan

Menag juga menegaskan bahwa KBC merupakan pengembangan dari konsep ekoteologi yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam semesta, dan Tuhan.

“Kalau semua kitab suci, termasuk Al Quran, dipadatkan menjadi satu kata, maka kata itu adalah cinta,” ujar Menag.

Menurutnya, implementasi KBC akan memberikan dampak positif di lingkungan madrasah dan pesantren. Ia menyebut budaya tawuran, perundungan, kekerasan fisik, hingga berbagai bentuk intoleransi harus terus ditekan melalui penguatan pendidikan yang berlandaskan nilai kasih sayang.

Sebelumnya, Nasaruddin Umar menekankan pentingnya penguatan kurikulum pendidikan keagamaan berbasis ekoteologi yang menekankan hubungan manusia, alam, dan Tuhan secara utuh dalam satu kesadaran nilai.

Menag menjelaskan konsep spiritual tersebut dapat membangun relasi saling mencintai antara manusia dan sesama, alam semesta, serta Tuhan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

“Ekoteologi itu kesadaran yang harus muncul pada diri setiap orang untuk mencintai sesama manusia, mencintai alam semesta, dan pada saat yang sama manusia dan alam juga mencintai Tuhannya. Ini seperti cinta segitiga,” kata dia.

Baca juga: Kemenag harap pelatihan KBC tingkatkan kualitas layanan publik

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |