BKPM percepat pengembangan pabrik biofuel terintegrasi di Lampung

3 hours ago 1
memperkuat ketahanan energi nasional

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mempercepat pengembangan pabrik biofuel terintegrasi di Provinsi Lampung sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi sektor perkebunan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menyampaikan proyek yang mengusung konsep bioetanol terintegrasi tersebut diharapkan menjadi model pengembangan energi terbarukan berbasis pertanian dan sumber daya domestik.

Komitmen tersebut ditegaskan dirinya dalam rapat koordinasi dan kunjungan lapangan pengembangan bioetanol terintegrasi di provinsi lampung bersama Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), serta para pemangku kepentingan terkait pada Selasa (9/6).

Dalam kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan Joint Declaration bertajuk Collaboration in Establishing Bioethanol Ecosystem Development oleh Pemerintah Provinsi Lampung, PNRE, TMMIN, dan PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI).

Deklarasi tersebut menjadi landasan kolaborasi dalam pengembangan rantai pasok bahan baku, pembangunan fasilitas produksi bioetanol, penguatan kemitraan dengan sektor pertanian, pengembangan teknologi, serta percepatan realisasi investasi guna mendukung ketahanan energi nasional.

Menurut Todotua, Lampung dipilih sebagai lokasi awal pengembangan karena memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku dan dukungan infrastruktur.

"Lampung memiliki feedstock paling mumpuni untuk pengembangan bioetanol nasional. Selain itu, posisinya sangat strategis karena dapat memasok kebutuhan Sumatera dan sebagian Jawa yang merupakan pusat konsumsi energi terbesar di Indonesia. Karena itu, kami menetapkan Lampung sebagai lokasi awal pengembangan ekosistem bioetanol nasional," tegas Todotua.

Dalam kunjungan lapangan ke Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, dan Desa Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan, rombongan meninjau kesiapan lokasi yang diproyeksikan menjadi kawasan pengembangan bioetanol terintegrasi.

Hasil peninjauan menunjukkan Lampung memiliki potensi bahan baku yang kuat, baik dari molases tebu, sorgum, maupun limbah biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol generasi pertama dan generasi kedua (second generation bioethanol).

Baca juga: Wamen Investasi sebut Toyota ambil peluang penuhi bioetanol RI

Baca juga: ESDM gandeng industri singkong hingga tebu genjot produksi etanol

Selain didukung posisi geografis yang strategis dan infrastruktur logistik yang memadai, proyek tersebut juga membuka peluang kemitraan antara industri dan petani lokal melalui pengembangan budidaya sorgum sebagai sumber bahan baku tambahan.

Katanya, pemerintah daerah setempat menyatakan dukungan penuh untuk mempercepat realisasi investasi.

Lebih lanjut, proyek bioetanol yang direncanakan akan menggunakan konsep multi-feedstock dengan memanfaatkan berbagai bahan baku seperti molases, sorgum, dan limbah biomassa.

Pada tahap awal, proyek percontohan akan mencakup penanaman sorgum varietas Enryu seluas 10 hektare dan pembangunan fasilitas bioetanol berkapasitas 60 kiloliter per tahun.

Sementara itu, pada tahap komersial akan dilakukan penanaman sorgum varietas Enryu seluas 6.000 hektare di Lampung, serta pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas 60.000 kiloliter per tahun.

Proyek tersebut ditargetkan mulai dibangun pada kuartal III 2027 dan beroperasi pada kuartal IV 2028.

Sebagai tindak lanjut dari deklarasi bersama dan kunjungan lapangan tersebut, para pihak akan mempercepat pelaksanaan studi kelayakan (joint feasibility study), penyusunan perencanaan proyek, pengembangan budidaya sorgum percontohan, serta finalisasi skema pembiayaan dan kemitraan strategis guna memastikan kesiapan implementasi proyek secara menyeluruh.

"Yang ingin kita bangun bukan hanya pabrik, tetapi ekosistem ekonomi. Feedstock ada di sini, logistik ada di sini, masyarakat agrikulturnya juga ada di sini. Tinggal kita maksimalkan. Karena itu mari kita mulai saja. Yang penting proyek ini berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, petani, industri pendukung, serta memperkuat ketahanan energi nasional," pungkas Todotua.

Baca juga: Kemenperin manfaatkan limbah sawit jadi bioetanol pacu transisi energi

Baca juga: Komisi VI DPR dan SGN pantau kesiapan industri bioenergi di Mojokerto

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |