Houthi Yaman klaim serangan ke fasilitas Aramco di Arab Saudi selatan

2 hours ago 4

Sana'a (ANTARA) - Kelompok Houthi Yaman pada Jumat (14/8) mengatakan pihaknya telah melancarkan serangan drone terhadap sebuah fasilitas milik perusahaan minyak negara Arab Saudi, Aramco, di wilayah Najran, Arab Saudi bagian selatan.

Serangan itu merupakan yang terbaru dalam serangkaian serangan yang diklaim kelompok tersebut terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.

Kantor berita Saba yang dikelola Houthi, mengutip sumber militer di dalam kelompok itu, melaporkan bahwa sebuah pesawat nirawak (drone) menyasar "Aramco Najran" dan mengklaim bahwa serangan tersebut "berhasil mencapai tujuannya."

Sumber itu mengatakan serangan tersebut merupakan respons atas "serbuan" pesawat tempur Arab Saudi ke wilayah udara Provinsi Saada, Yaman utara, yang merupakan basis pertahanan Houthi yang berbatasan dengan Arab Saudi.

Belum ada komentar langsung dari otoritas Arab Saudi mengenai klaim Houthi tersebut, dan belum ada informasi mengenai korban atau kerusakan.

Klaim terbaru itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi.

Pada 20 Juli, kelompok tersebut mengumumkan larangan pelayaran bagi kapal-kapal Arab Saudi, dengan alasan adanya dugaan blokade Arab Saudi terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi, sebuah klaim yang dibantah keras oleh Riyadh.

Sejak saat itu, Houthi telah mengklaim serangkaian serangan terhadap kapal tanker, fasilitas energi, dan bandara Arab Saudi, sembari juga meningkatkan serangan rudal dan drone terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai pemerintah di Yaman.

Yaman telah dilanda konflik sejak akhir 2014, ketika Houthi merebut Sanaa, ibu kota negara itu, dan sebagian besar wilayah Yaman utara, memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada tahun berikutnya untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mulai berlaku pada April 2022 berakhir enam bulan kemudian tanpa perpanjangan resmi, tetapi gencatan senjata de facto yang rapuh sebagian besar tetap bertahan hingga terjadinya eskalasi baru-baru ini.

Pewarta: Xinhua
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |