Mataram (ANTARA) - Pagi Idul Fitri di Kota Mataram selalu dimulai dengan gema takbir yang perlahan mereda, digantikan suasana haru di pelataran masjid dan lapangan. Usai Shalat Id, warga saling bersalaman, sebagian menahan tangis, sebagian lain tersenyum lega.
Bagi masyarakat kota ini, perayaan tidak berhenti di situ. Justru setelah rakaat terakhir itulah, rangkaian tradisi sosial, budaya, dan ekonomi mulai bergerak, membentuk wajah Lebaran yang khas, dinamis, dan penuh makna.
Momentum setelah Shalat Id menjadi ruang pertemuan antara nilai religius dan praktik sosial. Dari halal bihalal sederhana hingga gelombang wisata ke pantai, dari tradisi Lebaran Topat hingga dinamika kota yang berubah drastis dalam hitungan jam, semua menjadi bagian dari ekosistem Lebaran di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Fenomena ini layak ditelaah karena tidak hanya mencerminkan kebiasaan, tetapi juga menunjukkan arah kebijakan publik, ketahanan sosial, dan potensi ekonomi daerah.
Wajah kebersamaan
Tradisi halal bihalal di Mataram mengalami pergeseran menarik dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah kota, misalnya, memilih meninggalkan pola lama berupa open house pejabat dan menggantinya dengan konsep halal bihalal bersama.
Kebijakan ini tidak sekadar soal efisiensi anggaran, tetapi juga mencerminkan upaya membangun relasi yang lebih egaliter antara pemerintah dan masyarakat.
Model baru ini menghadirkan ruang interaksi yang lebih inklusif. Halaman kantor pemerintah disulap menjadi ruang lesehan, makanan disiapkan secara gotong royong, dan masyarakat umum diberi akses untuk hadir.
Ada pesan kuat tentang kesederhanaan dan kebersamaan yang ingin ditegaskan. Dalam konteks pelayanan publik, pendekatan ini juga menjadi strategi mempercepat normalisasi layanan pasca-libur, karena aparatur langsung berkumpul dan kembali ke ritme kerja.
Di tingkat masyarakat, halal bihalal berlangsung lebih cair. Rumah-rumah terbuka, keluarga besar berkumpul, dan silaturahmi lintas kampung terjadi hampir sepanjang hari.
Tradisi ini memperkuat kohesi sosial, terutama di kota yang heterogen seperti Mataram. Sebagaimana terlihat saat pawai takbiran yang dibagi di enam kecamatan untuk menjaga harmoni antarumat beragama, semangat toleransi itu berlanjut dalam praktik halal bihalal yang tidak eksklusif.
Baca juga: Musim sedekah yang menguji kota
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































