Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaksimalkan helikopter untuk pemadaman kawasan lahan terbakar di Provinsi Jambi dengan merampungkan 15 jam 32 menit waktu penerbangan untuk menyemai 8.000 kilogram garam Natrium Klorida (NaCl).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan di Jakarta, Jumat, mengatakan penerbangan dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) itu dilaksanakan intensif sebanyak delapan sortie pada periode 26 Agustus - 2 September 2026.
"Operasi modifikasi cuaca di Jambi telah berlangsung delapan sortie dengan total waktu penerbangan 15 jam 32 menit menggunakan 8.000 kilogram NaCl," kata dia.
Dia menjelaskan penyiraman air dari udara dan penyemaian garam modifikasi cuaca merupakan upaya untuk mengatasi kebakaran lahan, mengingat akumulasi luas lahan terbakar di Jambi hingga Kamis (3/9) telah mencapai 1.879,31 hektare, yang mayoritas melanda wilayah gambut yang sulit dijangkau.
Baca juga: Kepala BNPB pastikan titik api di Jambi terus berkurang
Hasil pemantauan BNPB mencatat terdapat 182 titik panas dan 20 titik api yang tersebar di wilayah Jambi. Dari estimasi 47,5 hektare area yang terbakar pada Kamis (3/9), tim gabungan baru berhasil memadamkan 37 hektare melalui gabungan operasi darat dan water bombing.
Namun memang, kata Berton, petugas di lapangan menghadapi sejumlah tantangan, termasuk masih minimnya keberadaan awan potensial di Jambi sehingga keberhasilan operasi modifikasi cuaca ini untuk mendatangkan hujan masih terbatas.
"Kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan dalam mendukung upaya penanganan karhutla. Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, hingga 10 September 2026 diperkirakan belum terdapat pertumbuhan awan," kata dia.
Oleh karena itu tim satuan tugas pemadaman darat Jambi diminta untuk terus bekerja, mulai dari melakukan penyiraman, patroli lapangan, membuat sekat bakar untuk mendukung percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah itu.
Baca juga: Menhut tekankan pemanfaatan potensi awan hujan untuk cegah karhutla
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































