Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) meluncurkan Angka Indeks Modal Manusia (IMM) Tahun 2025 dan Buku Pedoman Penghitungan IMM sebagai langkah strategis untuk memperkuat perencanaan, pemantauan, dan perumusan kebijakan pembangunan manusia di Indonesia
Buku Pedoman Penghitungan IMM menjadi acuan metodologi untuk memastikan penghitungan dan interpretasi IMM dilakukan secara terstandar, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan di berbagai tingkat pemerintahan.
“Pedoman ini diharapkan dapat memperkuat kesamaan pemahaman antar pemangku kepentingan dalam pemanfaatan IMM untuk mendukung perencanaan, pemantauan, dan evaluasi pembangunan,” ucap Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy sebagaimana dalam keterangan resmi, Jakarta, Selasa.
Pembangunan manusia disebut menjadi fondasi utama bagi tercapainya visi Indonesia Emas 2045. Kualitas manusia yang dibangun sejak awal kehidupan akan menentukan produktivitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa yang akan datang.
Dalam kerangka tersebut, lanjutnya, IMM hadir untuk melengkapi pengukuran pembangunan manusia yang selama ini telah dilakukan melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Dengan pendekatan siklus hidup, IMM melihat pembangunan manusia sebagai investasi jangka panjang berdasarkan kondisi kelangsungan hidup, pendidikan, dan kesehatan yang diperoleh sepanjang masa tumbuh kembang dalam membentuk potensi produktivitas dan daya saing manusia Indonesia di masa depan.
Lebih lanjut, dia menerangkan IMM merupakan adaptasi dari Human Capital Index (HCI) World Bank yang disesuaikan dengan karakteristik data, konteks, dan kebutuhan pembangunan Indonesia.
”Human Capital Index adalah perbaikan dari pada Human Development Index. Di mana perbedaannya tadi sudah disampaikan, tapi inti dari perbedaan itu adalah yang dulu dianggap sebagai objek pembangunan, sekarang menjadi subjek pembangunan. Yang terpenting dari pada suatu negara itu adalah orangnya, dan orangnya dicerminkan dari modal manusianya,” kata Menteri PPN.
“Modal manusia dicerminkan dari kesehatannya, dan kesehatan itu ada sejak dalam kandungan. Jadi sejak dalam kandungan, manusia Indonesia harus sehat. Kami di Bappenas merencanakan supaya manusia Indonesia 2045, bukan hanya sebagai objek tetapi subjek untuk mencapai Indonesia Emas. Karena itu, hari ini kita meluncurkan Indeks Modal Manusia (IMM),” ujar Kepala Bappenas.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, IMM digunakan sebagai indikator untuk mengukur pencapaian sasaran peningkatan daya saing sumber daya manusia. Sasaran tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, serta menjadi bagian dari arah pembangunan dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra), Rencana Kerja Pemerintah (RKP), dan dokumen perencanaan pembangunan daerah.
Integrasi tersebut memastikan bahwa proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi pembangunan sumber daya manusia dilakukan secara lebih terarah, terukur, dan berbasis bukti, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali menerangkan angka IMM Tahun 2025 merupakan baseline awal pengukuran modal manusia di Indonesia. Pengukuran ini telah menghasilkan nilai IMM di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, sehingga dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi modal manusia dan variasinya antar wilayah.
Pada tahun 2025, capaian IMM Indonesia tercatat sebesar 0,562. Artinya seorang anak yang lahir hari ini diperkirakan mencapai 56,2 persen dari potensi produktivitas optimalnya ketika memasuki usia kerja. Capaian ini menunjukkan peningkatan dari angka IMM 2020 sebesar 0,540 yang pernah dipublikasikan World Bank, ucap Pungkas, tetapi masih memerlukan kerja keras untuk mencapai target IMM di akhir RPJMN 2025-2029 sebesar 0,590.
Pada tingkat daerah, capaian IMM juga masih bervariasi antara nilai tertinggi 0,705 di Dl Yogyakarta dan nilai terendah 0,366 di Provinsi Papua Pegunungan.
Pengembangan IMM juga dikatakan menjadi bagian dari upaya memperkuat pembangunan manusia yang terintegrasi dan berbasis bukti. Dalam konteks ini, peningkatan kualitas modal manusia membutuhkan sinergi berbagai intervensi, mulai dari kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, pencegahan stunting, imunisasi, pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, hingga penguatan keterampilan dan produktivitas pada usia kerja.
“Ke depan, tata kelola, metodologi, dan kualitas data IMM akan terus disempurnakan agar pengukuran semakin akurat, konsisten, dan relevan dengan dinamika pembangunan Indonesia. Penguatan koordinasi antar kementerian/lembaga serta pengembangan kualitas dan ketersediaan data menjadi bagian penting dalam memastikan IMM dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai instrumen pembangunan berbasis bukti,” ungkap dia.
Baca juga: Bappenas luncurkan video pembelajaran Pengarusutamaan Gender
Baca juga: Wamendagri dorong pemanfaatan IMM perkuat pembangunan SDM daerah
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































