Bapanas: Pemerintah konsisten sediakan akses pangan terjangkau

2 hours ago 2
Hampir semua komoditas tersebut harganya stabil

Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan pemerintah konsisten menyediakan akses pangan terjangkau bagi masyarakat melalui gerakan pangan murah (GPM) guna menjaga stabilitas harga pangan dan mendukung pengendalian inflasi nasional.

"Tentunya upaya pemerintah dalam menjaga inflasi nasional telah dilaksanakan secara masif dan kontinyu. Salah satunya dengan penyelenggaraan gerakan pangan murah," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Melalui pelaksanaan GPM, pemerintah berupaya memastikan masyarakat dapat mengakses berbagai komoditas pangan pokok strategis dengan harga yang wajar dan lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.

Program tersebut juga difokuskan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan saat terjadi kenaikan harga, terutama pada periode hari besar keagamaan yang umumnya diikuti peningkatan permintaan komoditas pangan.

Selain memberikan akses pangan murah, pelaksanaan GPM menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat serta menekan potensi kenaikan inflasi yang dipicu oleh gejolak harga pangan.

Pemerintah saat ini memfokuskan upaya stabilisasi pada sejumlah komoditas utama seperti beras, jagung, kedelai, cabai, bawang, telur ayam ras, daging ayam ras, daging sapi dan kerbau, gula konsumsi, serta minyak goreng. Berbagai komoditas tersebut dilaporkan berada dalam kondisi harga yang relatif stabil.

"Hampir semua komoditas tersebut harganya stabil," tambah Ketut.

Adapun program pasar murah dalam bentuk GPM yang sudah terlaksana hingga akhir Mei 2026 telah tercapai 5.037 kali di 417 kabupaten/kota. Realisasi GPM tersebut telah jauh melebihi realisasi GPM Januari sampai Mei 2025 yang dicatat Bapanas di angka 3.482 kali.

Tingkat inflasi nasional secara umum masih terjaga sampai Mei 2026. Inflasi umum secara bulanan bergerak cukup progresif dari 0,13 persen di April, lalu menjadi 0,28 persen di Mei. Ini terjadi pula pada inflasi komponen bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan.

Dalam rilis terbarunya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perkembangan positif dari tingkat inflasi pangan. Pada Mei, level volatile food telah kembali mencatatkan inflasi 0,22 persen setelah sebelumnya di April menorehkan deflasi 0,88 persen.

"Inflasi bulan ke bulan menurut komponen, seluruh komponen mengalami inflasi. Komponen harga bergejolak mengalami inflasi 0,22 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau," kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini di Jakarta, Selasa.

Dalam analisis BPS, komoditas sayuran cukup mendominasi inflasi pangan di Mei. Ini lebih dikarenakan faktor musiman karena di Mei terdapat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha 1447 Hijriah. Permintaan masyarakat pun cukup tinggi yang lumayan ikut mengerek harga.

"Kenaikan harga sayuran seperti cabai, bawang merah, tomat, ini disebabkan oleh produksi atau hasil panen dan juga peningkatan konsumsi masyarakat yang cenderung bersifat musiman. Ini bersifat musiman karena adanya hari besar keagamaan (sehingga) menjadi salah satu pemicu adanya perubahan permintaan di masyarakat," urai Pudji.

Kendati demikian, BPS menjelaskan masih terdapat komoditas pangan yang mengalami deflasi. Kondisi itu disebut mampu meredam laju inflasi, namun di sisi lain deflasi secara terus-menerus juga akan berimplikasi pada harga di tingkat produsen pangan.

Adapun komoditas pangan yang masih alami deflasi secara bulanan selama Mei antara lain daging ayam ras dengan 3,83 persen. Kemudian telur ayam ras mencatatkan deflasi semakin dalam hingga 5,14 persen. Bawang putih alami deflasi 3,06 persen.

Terkait fluktuasi harga beras, BPS melaporkan terdapat pergerakan harga yang tipis secara bulanan. Beras premium naik 0,56 persen secara month to month. Sementara untuk beras medium naik 0,79 persen secara month to month.

"Selanjutnya untuk inflasi beras di tingkat eceran pada bulan Mei 2026, di tingkat eceran terjadi inflasi sebesar 0,38 persen secara month to month," beber Pudji.

Sementara, dalam pantauan harga beras Bapanas, misalnya pada pergerakan rata-rata harga beras medium secara nasional. Per 2 Juni berada di angka Rp13.499 per kilogram (kg). Naik tipis 0,32 persen dibandingkan sebulan sebelumnya dan belum melampaui harga eceran tertinggi (HET).

Meskipun harga beras berfluktuasi, jika dilihat pada tingkat inflasi beras secara bulanan, justru mulai menurun. Tingkat inflasi beras pada April berada di level 0,58 persen. Sementara inflasi beras pada Mei bergerak turun menjadi 0,38 persen.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |