Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan penyaluran 1,65 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) periode Januari-Agustus 2026, sebagai upaya pengendalian perkembangan harga beras melalui penguatan program stabilisasi pasokan dan bantuan pangan.
"Realisasi distribusi cadangan beras pemerintah telah menapai 1,65 juta ton, kami optimis mampu mengerem perkembangan harga," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Menurutnya fluktuasi perberasan Indonesia masih cukup terkendali. Meskipun terdapat tantangan El Nino yang telah melanda mulai Juli dan Agustus ini, yang merupakan puncak musim kemarau.
"Pemerintah meyakini pergerakan inflasi beras tidak akan sampai melonjak seperti pada El Nino edisi tahun 2023 dan 2024," ujarnya.
Ia menyebutkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi beras secara bulanan pernah mengalami lonjakan yang signifikan yakni pada September 2023 mencapai 5,61 persen dan Februari 2024 di level 5,32 persen.
Kondisi itu disebut akibat musim kemarau dan dampak El Nino saat itu. Akan tetapi, lanjut Ketut, pemerintah lebih siap dalam menghadapi El Nino untuk tahun 2026.
Ia menjelaskan sebagai komparasi, pemerintah sampai 21 Agustus 2026 telah mengucurkan stok CBP total sebanyak 1,65 juta ton. Distribusi itu meningkat 20,43 persen dibandingkan total penyaluran CBP Januari-Agustus 2023 yang di angka 1,37 juta ton.
Bahkan realisasi tersebut meningkat hingga 161,49 persen dibandingkan total penyaluran CBP periode Januari-Agustus 2025 yang hanya di angka 631,58 ribu ton.
Selain itu, Bapanas menyebutkan total stok CBP yang saat ini dikelola Perum Bulog per 21 Agustus 2026 mencapai 5,17 juta ton. Stok itu jauh melampaui hingga 291,66 persen dibandingkan kondisi CBP pada Agustus 2023, yang kala itu masih berada di angka 1,32 juta ton.
Baca juga: Bappenas: Cadangan beras pemerintah lampaui target per semester I
Baca juga: Bulog Sulselbar bangun 11 gudang di 2026 perkuat daya tampung pangan
Dia menuturkan pengendalian harga beras dilakukan melalui percepatan penyaluran beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) di pasar serta bantuan pangan Bulog selama tiga bulan (Juli, Agustus, September), agar Indeks Perkembangan Harga (IPH) tetap terkendali.
Adapun rincian penyaluran CBP Januari-Agustus 2026 yang telah mencapai 1,65 juta ton terdiri dari penjualan beras program SPHP pada Januari-Februari yang 221,05 ribu ton. Kemudian realisasi SPHP beras Maret sampai Agustus yang mencapai 678,12 ribu ton.
Ada pula realisasi program bantuan pangan tahap pertama 662,86 ribu ton dan bantuan pangan tahap kedua yang telah mulai berjalan di 32,25 ribu ton. Terakhir, penyaluran bantuan bencana dan keadaan darurat 11,39 ribu ton dan golongan anggaran 53,68 ribu ton.
Ketut memastikan seluruh program intervensi perberasan yang dilakukan Perum Bulog ditanggung pemerintah secara penuh. Hal ini menjadi bukti keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat yang memang membutuhkan bantalan ekonomi.
"Ini karena kita menguasai beras banyak. Tentu harusnya segera bisa kita lakukan intervensi secepatnya, dimana pun di Indonesia. Ini karena sekali lagi semua yang dilakukan dalam SPHP, pengeluarannya diganti oleh pemerintah," kata Ketut lagi.
Terpisah, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan Indonesia sudah berpengalaman dalam menghadapi El Nino. Kesiapan pangan sangat kuat dengan kepemilikan stok CBP hingga lebih dari 5 juta ton tanpa ada impor.
"Dulu pernah El Nino (tahun) 2016, kita selamat. Jadi dulu saja dalam waktu singkat, kita bisa bisa bertahan. Apalagi sekarang dengan pengalaman El Nino sampai tiga kali. Tapi (El Nino) 2023 dan 2024, itu persiapan agak kurang, sehingga impornya 7 juta ton. Sekarang kita sudah persiapkan El Nino, stok (CBP) kita 5,2 juta ton," ucap Amran.
Baca juga: Perum Bulog catat serapan beras capai angka 3,4 juta ton
Baca juga: Menko Polkam tinjau Gudang Bulog Sumut pastikan cadangan beras cukup
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































