Banyumas jadi model pengembangan KSPP berbasis potensi daerah

4 hours ago 5

Purwokerto, Jateng (ANTARA) - Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, disiapkan menjadi model pengembangan kawasan sentra produksi pangan (KSPP) berbasis potensi daerah guna memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

Project Director KSPP Blasius Popylus usai audiensi dengan Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono di Kompleks Pendopo Si Panji Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari penugasan kepada PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) sebagai BUMN untuk mendukung program pertahanan pangan nasional.

"Pada 2026, kami akan membangun 20 KSPP di Indonesia dan salah satunya berada di Banyumas. KSPP ini merupakan kawasan sentra produksi pangan yang diharapkan mampu mengintegrasikan seluruh kegiatan dari hulu hingga hilir," kata Vice President Divisi Pangan Agrinas Pangan Nusantara itu.

Menurut dia, pengembangan KSPP mengedepankan kolaborasi antara BUMN, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya dengan menempatkan petani sebagai subjek utama pembangunan pertanian.

Ia menegaskan pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong petani tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku utama yang berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Harapannya, pertanian tidak hanya menyejahterakan petani, tetapi petani lah yang nantinya turut menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia," katanya.

Ia mengatakan pemilihan Banyumas didasarkan pada sejumlah pertimbangan, antara lain posisi geografis yang strategis serta kondisi daerah yang tercatat memiliki surplus pangan, khususnya beras.

Selain itu, berbagai program pengembangan sektor pertanian yang telah dijalankan pemerintah daerah menjadi modal penting dalam mendukung implementasi KSPP.

"KSPP ini bukan dibangun dari nol, melainkan mengoptimalkan sumber daya yang sudah ada di daerah, baik sumber daya manusia, sumber daya alam, maupun potensi lainnya," katanya.

Dalam tahap awal, kata dia, pengembangan akan difokuskan pada komoditas padi dengan sistem terintegrasi yang mencakup kegiatan budi daya, pengolahan, hingga pengembangan agribisnis dalam satu ekosistem.

Selanjutnya, kawasan tersebut juga berpotensi dikembangkan untuk komoditas lain seperti jagung, kelapa, dan berbagai produk pangan lain sesuai dengan potensi lokal serta hasil kajian lanjutan.

Ia juga menyoroti peran generasi muda, khususnya petani milenial di Banyumas, yang dinilai aktif dalam inovasi pertanian, termasuk pengembangan benih unggul.

"Partisipasi generasi muda di Banyumas sangat baik. Ini menjadi modal penting untuk regenerasi petani dan pengembangan sektor pertanian ke depan," katanya.

Dalam pengembangannya, kata dia, KSPP juga akan melibatkan perguruan tinggi, seperti Universitas Jenderal Soedirman, melalui pembangunan pusat penelitian dan pengembangan di kawasan tersebut.

Blasius mengharapkan fasilitas tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa dan peneliti untuk mengembangkan inovasi, baik di bidang benih, alat dan mesin pertanian, maupun metode budi daya.

Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan pemerintah daerah berkomitmen penuh mendukung program tersebut sebagai upaya pemberdayaan petani.

"Saya minta seluruh jajaran untuk men-support program ini karena ini pemberdayaan petani. Petani akan senang jika penghasilannya meningkat," katanya.

Pihaknya aktif mendorong percepatan realisasi KSPP, termasuk menjajaki kolaborasi dengan berbagai pihak seperti Perum Bulog dan BUMN terkait agar pengembangan kawasan dapat berjalan terintegrasi.

Ia menilai keberadaan infrastruktur pendukung seperti rice milling unit (RMU) yang terintegrasi dengan program KSPP akan memperkuat ekosistem produksi pangan di daerah.

Selain itu, Banyumas juga memiliki potensi pengembangan komoditas kelapa yang selama ini didukung bantuan bibit dari pemerintah pusat maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Kendati demikian, ia menekankan pentingnya menjaga keunggulan daerah sebagai produsen gula kelapa atau brown sugar yang telah memiliki pasar kuat.

"Kalau seluruh program ini berjalan optimal, saya yakin akan muncul multiplier effect ekonomi yang besar bagi masyarakat," katanya.

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |