Jakarta (ANTARA) - Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Digna Niken Purwaningrum mengatakan Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu menumbuhkan perilaku makan sehat dan berkelanjutan.
Digna dalam siniar Badan Gizi Nasional (BGN) yang diikuti di Jakarta, Senin, mengemukakan perilaku makan yang sehat dipengaruhi oleh pola menyantap makanan seimbang diiringi dengan gaya hidup sehat.
"Gizi apakah dipengaruhi kurangnya makanan seimbang atau perilaku? Dua-duanya ikut berperan serta, kadang makanan berlimpah pun, orang belum memiliki perilaku yang pas untuk bisa memanfaatkannya. Kurang atau lebihnya makanan, perlu perilaku menyaring untuk menentukan mana makanan yang tepat dengan usianya," ujar dia.
Baca juga: Akademisi: Edukasi lewat MBG bisa kurangi angka obesitas
Menurut dia, ketersediaan pangan di Indonesia juga masih belum merata. Selain itu, peningkatan kesadaran akan pentingnya gizi perlu dibentuk dalam waktu yang tak sebentar.
"Dari sisi penyedia makanannya memang betul kita masih kurang, sedangkan dari segi jumlah produksi yang kita miliki, stoknya belum merata di Indonesia, ada yang surplus pangannya, ada yang memang kesulitan menyediakan makanan cukup. Kalau dari segi perilaku, kita menyadari bahwa itu tidak terbentuk dalam waktu setahun atau dua tahun saja," katanya.
Perubahan perilaku makan yang sehat dan berkelanjutan, lanjut dia, juga perlu ditanamkan dalam lingkungan paling kecil tetapi sangat menentukan, yakni keluarga.
Baca juga: Akademisi sarankan MBG di sekolah 1-2 hari saja, sisanya bawa bekal
"Untuk anak-anak, mau tidak mau yang menjadi lingkungan penentunya itu di keluarga dulu. Ini agak rumit karena konsep keluarga sekarang tidak sama dengan yang dulu, kalau keluarga sekarang, semakin banyak faktor dari luar rumah yang mempengaruhi," tuturnya.
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































