Jenewa (ANTARA) - Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) pada Jumat (31/7) merilis data terbaru yang menunjukkan pertumbuhan perdagangan barang global melampaui ekspektasi pada kuartal pertama (Q1) 2026.
Hal itu seiring lonjakan perdagangan komponen elektronik terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mengimbangi dampak negatif konflik Timur Tengah.
Menurut data tersebut, volume perdagangan barang dunia yang disesuaikan secara musiman meningkat sebesar 1,9 persen secara kuartalan (quarter on quarter) dan 3,2 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Q1 tahun ini.
Dari sisi nilai, perdagangan barang global meningkat sebesar 2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan meningkat sebesar 11 persen dibandingkan kuartal yang sama pada 2025.
Tingkat pertumbuhan secara tahunan (yoy) yang tercatat pada Q1 2026 secara khusus patut diperhatikan, mengingat pertumbuhan perdagangan pada Q1 2025 sebagian besar didorong oleh peningkatan impor di Amerika Utara menjelang kenaikan tarif yang telah diperkirakan.
Perdagangan yang kuat pada komponen elektronik terkait AI lebih dari cukup untuk mengimbangi dampak buruk pecahnya perang di Timur Tengah, termasuk gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz dan melambatnya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di negara-negara pengimpor bahan bakar bersih akibat kenaikan harga energi.
Meskipun tidak ada data spesifik yang tersedia mengenai volume perdagangan global produk-produk yang mendukung AI, nilai perdagangannya dalam denominasi dolar AS melonjak lebih dari 40 persen (yoy) pada Q1.
Konflik telah sangat berdampak pada perdagangan barang di Timur Tengah. Volume ekspor dan impor kawasan itu yang disesuaikan secara musiman turun masing-masing sebesar 9,7 persen dan 11,9 persen (yoy) pada Q1, dan penurunan yang lebih tajam diperkirakan terjadi pada kuartal kedua (Q2).
Pada saat yang sama, pengeluaran investasi terkait AI meningkatkan volume perdagangan di Asia pada Q1.
Ekspor dan impor Asia yang disesuaikan secara musiman naik masing-masing sebesar 12,9 persen dan 14,6 persen (yoy).
Sebagian besar ekspansi perdagangan Asia berasal dari peredaran intraregional produk-produk yang mendukung AI.
Di Amerika Utara, ekspor pada Q1 meningkat sebesar 7,0 persen (yoy), sementara impor turun sebesar 10,7 persen (yoy).
WTO memperkirakan bahwa data perdagangan pada kuartal berikutnya akan lebih mencerminkan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz.
Pewarta: Xinhua
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































