Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) bersama para champion cabai melaksanakan Gerakan Aksi Guyur Pasokan Cabai ke Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), Jakarta, sebagai upaya intervensi harga agar kembali berada pada batas kewajaran yang ditetapkan pemerintah.
"Langkah ini ditempuh menyusul meningkatnya harga cabai khususnya rawit merah akibat lonjakan permintaan menjelang momentum konsumsi tinggi, sementara sebagian sentra mengalami jeda panen karena faktor cuaca dan hari libur," kata Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Muhammad Taufiq Ratule dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Ia menegaskan secara umum ketersediaan cabai rawit merah di tingkat nasional dalam kondisi aman dan produksi tetap berjalan di berbagai sentra. Adapun Gerakan Aksi Guyur Pasokan akan berlangsung hingga 30 hari ke depan atau hingga harga stabil.
“Kenaikan harga saat ini lebih disebabkan oleh momentum peningkatan permintaan. Oleh karena itu, kita lakukan penambahan pasokan ke Pasar Induk Kramat Jati agar harga kembali pada rentang kewajaran tanpa merugikan petani,” ujarnya.
Intervensi ini dilakukan Kementan bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bareskrim, serta dinas di daerah untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan tepat sasaran.
Pasokan tambahan didatangkan dari sentra produksi yang saat ini memasuki masa panen optimal salah satunya . Langkah itu dilakukan secara terukur berbasis neraca produksi nasional guna memastikan keseimbangan pasokan dan permintaan tetap terjaga.
Baca juga: Hari pertama Ramadhan, harga bahan pokok di Jakbar naik drastis
Sentra utama komoditas itu meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Barat, dengan pola panen berlangsung bertahap dan berkelanjutan.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Agung Sunusi menambahkan kebijakan stabilisasi harga dirancang dengan mempertimbangkan kepentingan seluruh pihak.
Pemerintah, kata dia, tidak hanya berfokus pada penurunan harga di tingkat konsumen, tetapi juga memastikan petani tetap memperoleh margin yang wajar.
“Kita pastikan suplai dari sentra produksi ke PIKJ dapat dikawal semua pihak. Stabilitas harga harus memberikan margin yang adil bagi petani sekaligus tetap terjangkau bagi masyarakat,” tegasnya.
Langkah pemerintah ini mendapat dukungan langsung dari Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI). Ardhy selaku Ketua ACCI menyatakan kesiapan para champion cabai di berbagai daerah untuk memasok hasil panen ke PIKJ.
Baca juga: Curah hujan tinggi sebabkan harga cabai keriting naik
Ia memastikan produksi di sentra utama tetap berjalan dan stok tersedia untuk mendukung langkah stabilisasi yang dilakukan pemerintah.
“Kami memastikan anggota ACCI siap memasok hasil panen ke Pasar Induk Kramat Jati. Prinsipnya, stok ada, produksi berjalan, dan kami berkomitmen menjaga harga tetap dalam koridor kewajaran,” ungkapnya.
Terpisah, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan agar harga bahan pangan stabil, terutama menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
“Pemerintah akan terus melakukan upaya sebaik mungkin. Targetnya jelas, petani untung, konsumen tersenyum,” ucapnya.
Sebagai barometer harga hortikultura nasional, Pasar Induk Kramat Jati memiliki peran strategis dalam pembentukan harga di berbagai pasar turunan di wilayah Jabodetabek.
Dengan tambahan pasokan yang terjadwal dan terkoordinasi, diharapkan tekanan harga akibat lonjakan permintaan dapat segera mereda.
Kementan akan terus melakukan pemantauan harian terhadap perkembangan harga dan arus distribusi cabai rawit merah, serta memperkuat koordinasi lintas daerah guna memastikan kelancaran pasokan.
Gerakan itu menjadi wujud komitmen bersama dalam menjaga stabilitas harga pangan strategis sekaligus melindungi kepentingan petani dan masyarakat.
Baca juga: Kementan pastikan stok cabai surplus pasok Ramadhan-Idul Fitri 1447 H
Baca juga: Bapanas pastikan harga daging ayam dan cabai di Pasar Cileungsi stabil
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































