Jakarta (ANTARA) - PT Pelita Air Service mengungkapkan kronologi penerbangan charter armada Air Tractor AT-802 dengan registrasi PK-PAA, yang jatuh di Nunukan, Kalimantan Utara, saat menjalankan misi rutin distribusi program BBM Satu Harga, sehingga pilot meninggal dunia.
Corporate Secretary Pelita Air Service Patria Rhamadonna dalam pernyataan di Jakarta, Kamis mengungkapkan pesawat PK-PAA melaksanakan penerbangan dari Bandara Juwata Tarakan menuju Bandara Long Bawan dengan membawa muatan BBM.
Pesawat lepas landas pada pukul 10.22 WITA dan mendarat dengan baik di Long Bawan pada pukul 11.24 WITA. Setibanya di Long Bawan, petugas darat segera melakukan proses pembongkaran muatan sehingga pesawat siap untuk kembali menuju Tarakan dalam kondisi tanpa muatan pada pukul 12.10 WITA.
"Pada pukul 12.30 WITA, kantor pusat PT Pelita Air Service di Jakarta menerima informasi awal mengenai kondisi pesawat PK-PAA yang diduga jatuh tidak jauh dari Bandara Long Bawan," kata Patria.
Menindaklanjuti informasi tersebut, perusahaan segera melakukan koordinasi intensif dengan Lanud Tarakan, Basarnas, serta masyarakat setempat untuk memastikan kondisi pilot dan pesawat.
Setelah melakukan pencarian secara intensif, lokasi pesawat berhasil ditemukan pada pukul 13.25 WITA. Pilot kemudian dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia pada 14.33 WITA, kemudian jenazah dibawa ke RS Pratama Long Bawan dan tiba pada 15.20 WITA.
Jenazah direncanakan untuk dievakuasi menuju Tarakan pada hari Jumat, 20 Februari 2026 pukul 09.50 WITA, dan selanjutnya diterbangkan ke Jakarta pada kesempatan pertama untuk diserahkan kepada pihak keluarga.
Pelita Air bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan memberangkatkan tim gabungan ke Long Bawan pada 20 Februari 2026 untuk segera memulai proses investigasi penyebab jatuhnya pesawat.
"Sebagai informasi, pesawat yang digunakan dalam penerbangan tersebut adalah tipe Air Tractor AT-802 tahun produksi 2013 yang berada dalam kondisi laik terbang serta telah menjalani perawatan rutin terkini pada 15 Februari 2026," jelas Patria.
Penerbangan diawaki oleh satu orang pilot, yaitu Capt. Hendrick Lodewyck Adam, berusia 54 tahun, yang bergabung dengan PT Pelita Air Service sejak Juli 2021 dengan total pengalaman terbang lebih dari 8.000 jam.
Manajemen PT Pelita Air Service menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya pilot yang bertugas. Perusahaan memastikan akan memenuhi seluruh hak dan santunan kepada keluarga almarhum serta memberikan pendampingan yang diperlukan selama masa duka.
Perusahaan juga memastikan untuk terus berkoordinasi dengan KNKT, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, serta seluruh pihak terkait guna memastikan proses investigasi berjalan transparan dan komprehensif.
Perusahaan berkomitmen untuk terus memastikan keselamatan operasional dari seluruh penerbangan PT Pelita Air Service.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































