Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq mengatakan transformasi komunitas Katolik telah berkontribusi dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa sejak pra-Kemerdekaan.
Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam Hari Studi dan HUT ke-50+1 Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Baca juga: Wamendikdasmen: Semua kebijakan berangkat dan berakhir pada mutu
“Mengutip Karel Steenbrink dalam Orang-orang Katolik di Indonesia, telah terjadi proses transformasi lembaga pendidikan Katolik sejak pra-Kemerdekaan, bahkan sejak era Kolonial sampai era Reformasi. Transformasi itu menunjukkan komunitas Katolik turut berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Wamendikdasmen, Fajar dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Kamis.
Menurutnya, kunjungan apostolik Paus Fransiskus pada 2024, memiliki pesan yang sangat mendalam, tidak hanya bagi umat Katolik, namun juga bagi umat Islam dan umat-umat lainnya.
“Ini menunjukkan posisi penting Indonesia sebagai contoh atau laboratorium dari apa yang disebut dengan fratelli tutti (semua bersaudara),” imbuhnya.
Fajar menilai filosofi pendidikan Katolik berpijak pada itu, yakni pendidikan harus menjadi suatu laboratorium untuk mendorong proses perjumpaan antar-individu, antar-generasi, antar-iman, antar-bangsa, dan antar-peradaban.
“Saya mengapresiasi orientasi pendidikan Katolik yang mengarah pada keterbukaan tersebut,” ujarnya
Selain itu, lanjutnya, dalam dokumen Global Impact on Education atau Perjanjian Global tentang Pendidikan, Paus Fransiskus mengatakan pendidikan hari ini dan di masa depan harus berani untuk membentuk individu yang inklusif, bertanggung jawab, dan siap mendengar.
Baca juga: Wamendikdasmen tekankan peran SMK hadapi masa depan ketahanan pangan
Baca juga: Wamendikdasmen ajak guru di daerah tingkatkan kompetensi
Oleh karena itu, Fajar menekankan proses pendidikan yang seharusnya menunjukkan keberanian para peserta didik, keluar dari ego individual menuju kebersamaan.
“Itu yang menjadi cikal bakal tumbuhnya bela rasa atau solidaritas. Kita percaya pendidikan itu bukan semata berorientasi pada akademik, kepintaran kognitif. Lebih dari itu, membentuk manusia yang seutuhnya, manusia yang holistik,” katanya.
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































