Udara Jakarta tak sehat bagi kelompok sensitif Rabu pagi

1 week ago 28

Jakarta (ANTARA) - Kualitas udara Kota Jakarta tercatat tidak sehat bagi kelompok sensitif sehingga mereka disarankan agar memakai masker saat beraktivitas di luar rumah, demikian menurut laman IQAir pada Rabu pagi, dengan pembaruan pada pukul 05.00 WIB.

IQAir mencatat kualitas udara Jakarta berada pada poin 117 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 42 mikrogram per meter kubik atau 8,4 kali lebih tinggi dari nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sementara PM10 tercatat 27,5 mikrogram.

PM 2,5 merupakan partikel berukuran lebih lebih kecil 2,5 mikron (mikrometer) yang ditemukan di udara, termasuk debu, asap dan jelaga. Paparan partikel ini dalam jangka panjang dikaitkan dengan kematian dini, terutama pada orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru kronis.

Di sisi lain, PM10 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil dengan diameter 10 mikrometer atau kurang, dengan sumber utamanya berasal dari debu jalanan, aktivitas konstruksi, serbuk sari, serta gesekan ban dan rem kendaraan.

Baca juga: DKI perketat pemantauan kualitas udara imbas sebaran abu vulkanik

Rekomendasi kesehatan terkait kualitas udara saat ini, yaitu selain mengenakan masker, juga menghindari beraktivitas di luar ruangan, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, dan menyalakan penyaring udara.

Kualitas udara Jakarta pada Rabu tercatat berada pada urutan ketujuh terburuk di Indonesia, setelah Pontianak dengan poin 374, Palembang dengan poin 209, Pekanbaru 184, Jambi 172, Palangkaraya 172, dan Serpong 126.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencatat operasi water mist dan penyiraman di berbagai wilayah menunjukkan indikasi perbaikan sebaran partikulat, termasuk PM10.

Pemantauan pada 6-7 September 2026 menunjukkan sebaran PM10 tinggi yang sebelumnya cukup luas di Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan kini menjadi lebih terbatas setelah penyiraman tersebut.

Terkait PM2.5, laporan pemantauan menunjukkan berkurangnya sebaran area tinggi di beberapa bagian Jakarta Utara dan Jakarta Timur, sedangkan sejumlah wilayah, terutama Kembangan dan Kebon Jeruk, masih memerlukan perhatian.

Baca juga: Jaksel imbau pengelola gedung aktifkan "water mist" untuk tekan polusi

Baca juga: Tekan polusi udara, Rasuna Said-Mampang Prapatan disemprot kabut air

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |