Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai keterbukaan informasi di daerah menjadi salah satu faktor penting untuk menarik lebih banyak investasi, karena keterbukaan informasi di daerah bisa mencerminkan kepastian berusaha dan kepercayaan investor.
Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan informasi investasi yang tersedia di daerah perlu disampaikan secara jelas, konsisten, dan mudah diakses oleh calon investor.
“Investasi motor penting bagi pertumbuhan ekonomi. Pada akhirnya seluruh investasi akan bermuara di daerah dan sangat bergantung pada kesiapan ekosistem di daerah. Karena itu daerah perlu memastikan informasi investasi tersedia jelas, konsisten, dan mudah diakses, guna mengurangi informasi asymmetry, memperkuat business certainty, serta meningkatkan kepercayaan investor dalam mengambil keputusan investasi,” ujar Haryo dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurut Haryo, informasi yang dibutuhkan investor tidak hanya berkaitan dengan perizinan, tetapi juga mencakup profil dan potensi ekonomi daerah, tata ruang, infrastruktur, insentif, komoditas unggulan, rantai pasok lokal, hingga keberadaan usaha mikro kecil san menengah (UMKM) serta industri pendukung.
Baca juga: Pemerintah dorong investasi kelistrikan 100 GW dan penguatan EBT
Dalam konteks saat ini, keterbukaan informasi semakin penting di tengah ketidakpastian global.
Haryo menjelaskan investasi juga perlu diarahkan pada sektor dan proyek yang memiliki nilai tambah tinggi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat perekonomian daerah guna mendukung pencapaian sasaran pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam hal itu, pemerintah terus memperkuat implementasi sistem Online Single Submission (OSS) melalui Perizinan Berusaha Berbasis Risiko yang diatur dalam PP Nomor 28 Tahun 2025.
Selain penguatan sistem perizinan, pemerintah juga mendorong penyelesaian berbagai hambatan investasi melalui Satgas Debottlenecking.
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































