Tulungagung, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur mengurangi target jumlah rombongan belajar (rombel) jenjang sekolah dasar (SD) pada Sekolah Rakyat setelah kesulitan memenuhi kebutuhan calon peserta (peminat) didik baru untuk sistem pendidikan berasrama.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tulungagung Reni Prasetiawati Ika Septiwulan di Tulungagung, Minggu, mengatakan usulan awal sebanyak tiga rombel jenjang SD disesuaikan menjadi dua rombel sesuai hasil pembahasan bersama pemerintah pusat.
"Usulan kami untuk jenjang SD awalnya tiga rombel, tetapi yang disetujui dua rombel," katanya.
Menurut Reni, penyesuaian dilakukan karena proses penjaringan siswa SD lebih sulit dibanding jenjang SMP dan SMA.
Sebagian besar calon peserta didik masih berusia dini sehingga orang tua belum siap melepas anak mereka mengikuti pendidikan dengan sistem asrama.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Dinas Sosial melakukan pendekatan kepada keluarga calon peserta didik, termasuk membuka peluang orang tua mendampingi anak pada hari-hari awal tinggal di asrama.
"Kami melakukan pendekatan kepada orang tua. Bahkan bila diperlukan mereka bisa mendampingi anak selama satu hingga dua hari pertama," ujarnya.
Sekolah Rakyat di Tulungagung dirancang menampung sekitar 1.000 siswa mulai jenjang SD, SMP hingga SMA.
Calon peserta didik diprioritaskan berasal dari keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH) kategori desil 1 dan desil 2.
Selain menyediakan layanan pendidikan gratis, program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pemberdayaan ekonomi, bantuan modal usaha, serta perbaikan rumah bagi keluarga yang memenuhi syarat.
"Program ini tidak hanya menyasar pendidikan anak, tetapi juga pemberdayaan keluarganya agar lebih mandiri," kata Reni.
Baca juga: Pemerintah verifikasi rumah tak layak huni orang tua siswa SR
Baca juga: Kemensos pastikan SR Terintegrasi di Jember siap beroperasi Juli 2026
Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































