The Devil Wears Prada 2: Ketika Andy berdiri untuk Runway

1 hour ago 3
Pendekatan ini membuat film terasa lebih dewasa. Tidak lagi sekadar drama tentang ambisi dan karier, tetapi juga tentang adaptasi terhadap perubahan.

Jakarta (ANTARA) -

Film The Devil Wears Prada 2 yang hadir hampir dua dekade setelah film pertamanya, membawa satu pertanyaan yang lebih sempit namun relevan: Apakah majalah fashion seperti Runway masih bisa bertahan di tengah dominasi media digital?

Sekuel ini melanjutkan kisah majalah Runway yang kini berada di bawah tekanan besar. Jika pada film pertama The Devil Wears Prada, Runway digambarkan sebagai simbol kejayaan media cetak, kali ini posisinya jauh lebih rapuh. Ancaman kebangkrutan muncul seiring pergeseran ke platform digital, perubahan pola konsumsi informasi, dan dominasi media sosial dalam membentuk tren.

Isu ini terasa dekat dengan kondisi nyata. Banyak media cetak global mengalami penurunan dalam dua dekade terakhir. Majalah fashion yang dulu menjadi kiblat tren kini harus bersaing dengan influencer, konten viral, dan algoritma.

Andy Sachs yang diperankan oleh Anne Hathaway kini berdiri di sisi yang dulu ia pertanyakan. Dalam The Devil Wears Prada 2, ia menjadi bagian dari upaya mempertahankan Runway yang berada di ambang runtuh, di tengah perubahan industri yang tidak lagi berpihak pada media lama.

Miranda Priestly yang dimainkan oleh Meryl Streep, tetap menjadi pusat kendali dalam cerita. Karakter ini masih mempertahankan aura dingin dan tegas yang menjadi ciri khasnya. Namun, ada perubahan pendekatan yang terasa jelas. Lingkungan kerja yang dulu permisif terhadap perilaku otoriter, kini mulai berubah.

Film ini menyisipkan isu kesejahteraan pekerja melalui detail yang halus. Miranda tidak lagi bersikap semena-mena seperti sebelumnya. Dalam beberapa adegan, asistennya yang diperankan oleh Simone Ashley, memberi sinyal agar ia lebih berhati-hati saat berbicara dalam rapat. Ini menunjukkan adanya pergeseran budaya kerja, di mana batas profesional semakin diperhatikan.

Pendekatan ini menarik karena tidak disampaikan secara eksplisit. Tidak ada dialog panjang yang menggurui. Perubahan justru terasa dari interaksi kecil antar karakter. Ini membuat isu yang diangkat terasa lebih natural.

Penampilan Anne Hathaway dan Meryl Streep tetap menjadi poros utama film. Anne Hathaway menghadirkan Andy yang lebih matang, dengan ekspresi dan gestur yang mencerminkan perjalanan panjang karakternya di dunia kerja.

Meryl Streep masih konsisten sebagai Miranda Priestly. Karakternya tetap dingin dan penuh kontrol, namun kini terasa lebih menyesuaikan dengan perubahan lingkungan kerja.

Performa keduanya semakin kuat dengan kehadiran Emily Blunt dan Stanley Tucci. Emily Blunt kembali dengan karakter yang tajam dan cepat, menjaga ritme interaksi tetap dinamis. Stanley Tucci memberi keseimbangan lewat pendekatan yang lebih tenang dan reflektif.

Interaksi keempatnya membuat dinamika Runway terasa lebih hidup, dengan relasi yang tidak lagi sederhana, tetapi penuh lapisan.

Film ini tetap mengandalkan fashion sebagai daya tarik utama. Setiap outfit dirancang dengan detail tinggi dan memiliki karakt

Baca juga: The Academy rilis pembaruan kategori Oscar termasuk film dengan AI

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |