Jakarta menuju kota bahagia dan toleran

2 hours ago 3
Dalam masyarakat majemuk, pengakuan terhadap identitas kelompok, termasuk warga Tionghoa, adalah fondasi bagi tegaknya martabat warga negara

Jakarta (ANTARA) - Jakarta terus berkembang menjadi kota metropolitan yang tak hanya menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan, tetapi juga simbol pertemuan antara modernitas dan kekayaan budaya lokal.

Jakarta adalah rumah bagi jutaan masyarakat dari berbagai latar belakang, budaya, dan nilai.

Identitas Jakarta terletak pada keberagaman yang hidup berdampingan dan saling menghormati. Jakarta bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang hidup yang layak dijaga bersama.

Toleransi dan harmoni adalah modal sosial untuk membangun kota global yang manusiawi. Kota dengan modal sosial tinggi cenderung lebih stabil, lebih aman, dan lebih sejahtera.

Jakarta memiliki potensi yang sangat luar biasa. Dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa (saat pagi dan siang hari) dan peran sebagai pusat ekonomi nasional, membangun narasi kota yang manusiawi adalah investasi sosio-ekonomi jangka panjang. Toleransi bukan sekadar aspirasi, namun juga merupakan strategi pembangunan.

Menjadikan Jakarta sebagai kota global yang manusiawi, berarti memastikan tidak ada satu pun warga yang merasa asing di rumahnya sendiri. Inklusivitas bukanlah sebuah pilihan politik, melainkan sebuah prasyarat mutlak bagi Jakarta yang manusiawi dan berkeadilan.

Sudah saatnya semua pihak menyadari bahwa dalam keberagaman, bangsa ini tidak sedang mencari perbedaan, melainkan sedang merayakan kekayaan yang menjadi modal utama kemajuan bangsa.


Membahagiakan warga

Awal April lalu, Kota Jakarta baru saja ditetapkan sebagai kota paling aman (posisi kedua) di ASEAN, lebih unggul dibanding Bangkok, Kuala Lumpur, Hanoi, dalam indeks keamanan.

Lembaga pemeringkat Global Residence Index 2026 menempatkan Jakarta persis di bawah Singapura yang dari waktu ke waktu selalu terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Merujuk laporan Antaranews, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo sama sekali tak menyangka pencapaian gemilang tersebut.

“Saya juga kaget, Jakarta yang dulu berada di bawah Bangkok, Manila, dan Kuala Lumpur, sekarang berada di posisi kedua setelah Singapura,” ujar Pramono, merespons data indeks global itu.

Capaian positif ini tidak lahir dari ruang hampa. Pramono meyakini kekuatan keberagaman warga memegang andil terbesar. Sikap toleransi berhasil merajut keharmonisan antarumat. Perayaan Natal, Cap Go Meh, Ramadhan, Idul Fitri, sampai Nyepi selalu berlalu tenang, tanpa gejolak berarti.

Catatan keamanan fisik ini mendorong jajaran pemerintah daerah bekerja lebih keras menjaga kenyamanan publik ke depan. Jaminan keselamatan fisik terbukti menciptakan efek domino instan.

Rasa tenang penghuni telah menumbuhkan benih kebahagiaan kolektif. Status Jakarta sebagai kota paling aman kedua di ASEAN, beriringan dengan temuan jaringan media Time Out pada tahun 2025.

Jajak pendapat massal mereka berhasil menjaring opini lebih dari 18.000 warga dunia. Hasilnya mendobrak ekspektasi banyak pihak. Jakarta berhasil menembus daftar eksklusif 20 kota paling bahagia aras global.

Akses ruang terbuka hijau, denyut seni budaya, hingga ragam kuliner jalanan menyumbang poin kepuasan tertinggi. Harmoni kebahagiaan dan keamanan absolut ini merombak total wajah lama ibu kota yang kadung lekat dengan noda kemacetan.

Sejarah Jakarta membentuk kota ini sebagai simpul sejarah. Jakarta tumbuh sebagai pelabuhan kosmopolit, tempat warga dari berbagai penjuru, seperti Arab, China, India, Eropa, dan Nusantara (sendiri) berjumpa.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |