Jakarta (ANTARA) - Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) mengungkapkan wilayah Pekalongan dipertimbangkan untuk masuk tahap awal pembangunan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW).
"Ya dipertimbangkan. Jadi dimasukkan, sekarang kan sudah kita hitung besarannya untuk Kendal, Semarang, Demak sudah hampir 80 persen itu perencanaan detailnya. Untuk yang Pekalongan kita sedang melaksanakan mitigasi," ujar Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.
Didit juga menambahkan bahwa terkait Pekalongan tentunya perlu ada investigasi lagi untuk perairannya, pantainya dan
sebagainya tetap BOPPJ lakukan sehingga pelaksanaan kegiatan ini bisa dilaksanakan simultan.
"Makanya kami bangun dengan menggunakan cara 15 segmen. Jadi tidak harus menyambung dari barat ke timur tapi kondisi-kondisi tertentu mungkin segmen 3 yang menjadi prioritas di Pekalongan atau segmen 4 di lain titik. Itu kita lakukan intervensi di situ dengan catatan tentunya dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada," katanya.
Sebagai informasi, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengusulkan kepada Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) agar wilayah Pekalongan dapat masuk wilayah yang diprioritaskan dalam pembangunan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) sesi pertama selain Teluk Jakarta dan Semarang-Kendal-Demak.
Baca juga: Prabowo pimpin ratas pematangan pembangunan tanggul laut raksasa
Baca juga: Prabowo pimpin ratas bahas percepatan "giant sea wall" di Pantura
Kementerian PU, menurut Dody, diminta oleh BOPPJ untuk menempatkan personel di BOPPJ. Kementerian juga terus berkoordinasi dengan BOPPJ terkait pembangunan Giant Sea Wall.
Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa mengungkapkan urgensi pembangunan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall untuk melindungi kontribusi wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sekitar 368,3 miliar dolar AS.
BOPPJ menyampaikan bahwa urgensi pembangunan atau perlindungan Pantura Jawa itu salah satunya yang dilakukan dengan membangun Giant Sea Wall.
Selain mengalami penurunan permukaan air tanah, menurut dia, wilayah Pantura Jawa juga mengalami banjir rob akibat kenaikan permukaan air laut sehingga dapat mengancam terhadap aset-aset nasional yang berada di wilayah tersebut.
Selain itu, kota-kota strategis di wilayah Pantura Jawa seperti Semarang juga mengalami penurunan permukaan tanah (land subsidence) dan mengalami rob.
Baca juga: Menteri PU usul Pekalongan dapat diprioritaskan di GSW sesi pertama
Baca juga: BOPPJ: Waduk retensi Giant Sea Wall bisa dimanfaatkan untuk air baku
Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































